Tuesday, 22 July 2014

Media-media Asing Turut Soroti Mundurnya Prabowo dari Pilpres


"Kandidat Pilpres Indonesia, Prabowo, Menolak Proses Pemilu"

VIVAnews - Pernyataan mengejutkan datang dari Prabowo Subianto, Selasa 22 Juli 2014. Calon Presiden nomor urut satu itu menarik diri dari Pemilihan Presiden 2014. Langkah Prabowo bukan saja menjadi perhatian media di tanah air, tapi juga sejumlah media asing.

Harian Hong Kong, South China Morning Post (SCMP) edisi hari ini menurunkan tulisan berjudul "Prabowo Capres Indonesia Menarik Diri dari Pencalonan, Menolak Proses Pemilu".
Dalam tulisan tersebut, mereka menyoroti mengenai alasan mantan Danjen Kopasus itu mengundurkan diri dari Pilpres 2014.

Prabowo, tulis SCMP, menuduh adanya kecurangan sehingga kubu capres nomor urut dua, Joko Widodo bisa unggul. Dari hasil suara yang telah dihitung KPU menunjukkan Jokowi meraih 52 persen suara, sementara Prabowo mendapat 48 persen suara.

SCMP
turut menulis pernyataan Prabowo yang mengkritik KPU yang memilih untuk tetap mengumumkan hasil pemilu hari ini. Bahkan, Prabowo mengatakan kemungkinan akan mengajukan tuntutan ke Mahkamah Konstitusi. Walaupun banyak para ahli menilai tuntutan itu tipis kemungkinan berhasil.

"Proses Pilpres yang dilakukan oleh KPU bermasalah dan tidak demokratis. KPU tidak adil dan tidak terbuka, oleh sebab itu, kami menolak hasil dan proses penghitungan suara yang dilakukan KPU," ujar Prabowo.

Penarikan diri Prabowo sebagai kandidat capres turut dibenarkan oleh keponakannya, Aryo Djojohadikusumo.

"Saya bisa benarkan bahwa Prabowo-Hatta menarik diri dari pemilu. Sehingga hanya meninggalkan satu kandidat dalam pemilu ini," kata Aryo.

Dalam tulisannya, SCMP turut mengutip aturan yang berlaku dalam Pilpres, yaitu para kandidat setuju tidak akan mencabut pencalonannya ketika mereka siap maju.

"Atau mereka harus siap menghadapai tuntutan lima tahun penjara dan denda hingga Rp50 miliar," tulis SCMP.

Media Inggris, BBC menurunkan tulisan berjudul "Kandidat Pilpres Indonesia, Prabowo, Menolak Proses Pemilu", menyoroti kembali pesan Presiden SBY ketika mengundang kedua kandidat saat berbuka puasa pada Minggu, 20 Juli 2014.

Presiden SBY meminta untuk mengutamakan persatuan dan kebersamaan bangsa.

"Ketika sebuah bangsa terpecah, maka untuk menyatukannya kembali butuh usaha yang tidak mudah," ujar SBY dalam pertemuan dua hari lalu.

Dia turut mengingatkan bahwa mengakui kekalahan merupakan perbuatan mulia.

Sebenarnya sinyalemen penolakan itu telah diberikan Prabowo sehari sebelum KPU mengumumkan hasil resmi Pilpres.
Media Australia, Sydney Morning Herald (SMH), memberitakan tim Prabowo-Hatta telah memperingatkan KPU jika mereka tetap mengumumkan hasil pemilu, artinya sama saja institusi tersebut telah melakukan tindak kejahatan.

"Saya mempertanyakan legitimasi dari proses ini. Mungkin saja proses ini menuju ke sebuah proses yang dianggap tidak valid," ujar Prabowo.

Dalam tulisan bertajuk Pilpres Indonesia: Prabowo Subianto Tidak Akan Menerima Hasil Pemilu, SMH turut menyoroti keberadaan situs kawalpemilu.org yang dianggap suatu pembaharuan dalam Pilpres di Indonesia.

Itu merupakan situs yang dibuat oleh publik dan mereka secara sukarela mengunggah hasil penghitungan suara di masing-masing TPS di seluruh Indonesia.

Namun, situs itu dianggap oleh Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon tidak dapat diandalkan. Menurut Fadli, situs tersebut dibuat oleh tim sukses Jokowi.

Dalam tulisan itu SMH juga menyebut kemungkinan terjadi tindak kerusuhan dari pendukung kedua kubu kecil. Karena hampir sebagian besar warga sudah mulai kembali ke kampung halaman untuk menyambut datangnya hari Idul Fitri. (ren)

No comments: