Senin, 22 Maret 2010

Filled Under:

Wawancara Prof. Dr. KH. Miftah Farid

Wawancara dengan K.H. Dr. Miftah Farid, Aktifis ‘66, saat ini menjabat sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Barat
oleh: Asnawi Ihsan

Pergeseran peta politik dari Orde Lama ke Orde Baru memberikan implikasi terhadap perkembangan pemikiran dan sikap politik umat Islam. Sebagian masih sangat gigih untuk memperjuangkan Islam Politik dan sebagian lagi mencoba mencari alternatif melalui jalan Islam Kultural.

Sekelompok Anak-anak muda Muslim yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam mencoba mencari formulasi alternatif yang tepat. Di bawah kepemimpinan Nurcholish Madjid, HMI menawarkan konsep Nilai Dasar Perjuangan (NDP) yang selanjutnya menjadi basis ideologi HMI.


Tak lama setelah itu, cak Nur mempopulerkan gagasan Islam Yes, Partai Islam, No, sebagai kritik terhadap kecenderungan elit Islam yang hanya fokus terhadap perjuangan Islam politik dan melupakan bahwa masih banyak persoalan yang lebih penting dari sekedar perjuangan untuk meraih kekuasaan. Tepatnya, cak Nur menawarkan pendekatan kultural dalam mengembangkan Islam dan lebih mengedepankan sikap moderat. Cak Nur berupaya menjustifikasi ide demokrasi, HAM, pluralisme dan isu-isu global lainnya melalui kitab suci dan literatur Islam.

Apa yang ditawarkan cak Nur menarik perhatian anak-anak muda Islam saat itu. Cak Nur cukup dikagumi dan dianggap sebagai sosok ideolog dan leader yang mampu melakukan penyegaran di saat umat Islam sedang mengalami krisis kepemimpinan dan arah gerakan. Dawam Rahardjo, Oetomo Danandjaya, Usep Fathuddin dan lain-lain mendukung penuh perjuangan cak Nur. Begitupun dengan anak-anak muda di daerah-daerah seperti apa yang terjadi dengan Miftah Farid yang saat itu menjadi Ketua Umum HMI Cabang Surakarta.

Berikut wawancara Asnawi Ihsan dari Center for Spirituality & Leadership (CSL) bersama K.H. Miftah Farid, Ketua MUI Jawa Barat seputar pengaruh pemikiran cak Nur terhadap anak-anak muda aktifis ’66. Wawancara ini sebagai bagian dari proses pengumpulan data untuk penyusunan biografi cak Nur.




Kapan bapak pertama kali mengenal dan berinteraksi dengan cak Nur?

Saya pertama kali mengenal cak Nur di HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) ketika cak Nur menjadi salah seorang ketua Pengurus Besar. Hubungan semakin dekat saat Cak Nur menjabat sebagai Ketua Umum PB HMI dan saya menjadi Ketua Umum Cabang Surakarta.


Apa alasan bapak untuk dekat dengan cak Nur?

Saya pengagum Nurcholish. semua anak-anak HMI saat itu kagum dengan cak Nur. karena pada saat 1966 anak-anak muda sedang mengalami krisis kepemimpinan dan arah gerakan Islam. Sangat diperlukan adanya seorang ideolog yang dapat diterima oleh semua pihak. Nah, cak Nur memenuhi persyaratan itu. Ia mampu merumuskan arah gerakan Islam yang moderat dengan merujuk kepada Alquran dan literatur Islam. Ungkapan-ungkapan cak Nur waktu itu sesuatu yang baru meskipun sebenarnya itu bukan hal baru tapi ia mampu merumuskan dengan bahasa yang mudah dipahami. Rumusan konsep itu kemudian dinamakan Nilai Dasar Perjuangan (NDP). Kader-kader setelah mempelajari NDP menjadikan NDP sebagai pedoman dan merasa bangga dengan rumusan itu. Terasa sekali manfaat NDP bagi arah gerakan dan perjuangan HMI dalam memberikan kontribusi untuk agama dan bangsa.

Hubungan saya dengan cak Nur semakin dekat saat kami banyak membahas NDP di tingkat nasional maupun daerah. Terutama untuk training-training pendalaman NDP untuk daerah Surakarta.

Saya juga mengajar di ITB dengan membawa rekomendasi dari cak Nur. Ia mengirim surat ke orang-orang ITB seperti pak Sadzaly dan bang Imad yang isinya menyampaikan bahwa saya layak untuk menangani studi agama di ITB.


Bagaimana sikap bapak saat cak Nur mnegeluarkan gagasan Islam Yes, Partai Islam No,?

Nah, sampai pada saat tahun ’70-an ketika ada isu Islam, Yes, Partai Islam, No, kita cukup kaget di Bandung. Kemudian kawan-kawan di Bandung mulai ramai mendiskusikan masalah ini. Sikap Mang Endang (Endang Saefudin Anshari) sangat keras terhadap cak Nur. Akhirnya kita rencanakan untuk mengadakan pertemuan di Bandung, di kediaman Ir ahmad Nu’man. Kita minta penjelasan cak Nur dan saat itu secara pribadi saya dapat memahami arah pemikiran cak Nur mengapa menyampaikan gagasan tersebut.


Lalu?

Di Bandung itu juga kan ada mang Endang, beliau termasuk yang paling depan menentang gagasan cak Nur. Kemudian kita juga kenal yang namanya Abdul Qodir Jaelani yang agak keras. Adapun saya, karena punya kedekatan secara pribadi saya tidak ingin polemik dan ingin tahu langsung.


Apa yang bapak obrolkan dengan cak Nur saat itu?

Setelah cak Nur selesai bicara, saya bisa memahami apa yang disampaikan cak Nur melalui pendekatan ushul fikih. Bahwa sekulerisasi cak Nur itu kan pada urusan-urusan muamalah bukan urusan ibadah. Jadi ya pada prinsipnya banyak sekali peluang kita untuk berijtihad di sana. Toh kata nabi, untuk urusan ibadah aku lebih tahu, tapi untuk urusan dunia kalian ya kalian yang lebih tahu. Jadi ya selesai masalah saya dengan cak Nur.


Jadi, bisa saya tegaskan, bahwa pak miftah setuju dengan gagasan cak Nur?

Berdasarkan prinsip tadi, ya, saya setuju.


Setelah pak miftah merasa clear dengan cak Nur, ada tidak upaya bapak untuk menetralisir atau menengahi polemik cak Nur dengan kawan-kawannya di bandung? Atau meluruskan informasi ke masyarakat umum misalnya?

Barangkali kalau sampai menetralisir saya enggak. Cuma paling tidak saya dan beberapa teman-teman bisa memahami. Jadi tidak terlampau tajam polemik ini. Ini kan cuma beda pendapat saja. Pa Endang Saefudin memang agak tajam. Pa Abdul Qodir Jaelani juga. Saya berusaha memahami saja.


Dimata bapak, bagaimana sisi pribadi cak Nur?

Pertama, beliau itu sangat pintar dan yang kedua sangat tangguh. Dikritik habis-habisan masih bisa tegar seperti itu. Kalau bukan cak Nur mungkin sudah KO. Bahkan, sampai ada saudara kita yang mengatakan cak Nur laisa minnaa (bukan golongan orang beriman). Yang lebih parah lagi, sudah meninggal dunia pun masih difitnah macam-macam. Allahumma yarham allahumma ya allah (Pak Miftah membaca doa tersebut dengan nada lirih dan sedikit meneteskan air mata). Tapi itu resiko lah. Ibnu Sina juga diperlakukan begitu. Cak Nur masih bisa tangguh menerima kritik.


Lalu, bagaimana ide-ide cak Nur ke depan?

Berkaitan dengan ide-ide cak Nur, menurut saya akan terus hidup, dalam arti semangat pencerahan yang diperjuangkan cak Nur akan terus hidup. Bahwa di sana-sini terjadi koreksi atau perbaikan itu normal-normal saja.


Saya fikir cukup dulu pak.

Iya baik. Baik. Itu dulu yang bisa saya sampaikan.

sumber: http://dunia.pelajar-islam.or.id

2 komentar:

Miftah Farid mengatakan...

Kebetulan nama aku sama dengan beliau , ,, nama saya Miftah Farid, juga

Pas searching di google ketemu blog ini,, he

Salam kenal

Bandung Barat Update mengatakan...

assalamu'allaikum pak...
salam dari anak dakwah unisba :)
YAKUSA...!!!