Tuesday, 21 January 2014

Cuci Tangan vs Hand Sanitizer, Mana yang Lebih Baik ?

Mencuci tangan adalah suatu kebiasaan yang sebaiknya diajarkan kepada anak-anak sejak dini. Penelitian dalam dan luar negeri membuktikan bahwa mencuci tangan dapat mengurangi risiko infeksi kuman penyebab berbagai macam penyakit. Inilah mengapa beberapa tahun terakhir banyak sekali gerakan
 "Ayo MencuciTangan" yang disponsori oleh berbagai produk sabun kesehatan. Pada umumnya, aktivitas ini dilakukan dengan menggunakan air serta sabun. Membasahi tangan dengan air, mengaplikasikan sabun, menggosok tangan hingga sela-selajari, dan melakukannya antara 10-15 detik adalah cara ideal untuk mencuci tangan dengan baik dan benar demi mendapatkan kebersihan maksimal.

Seiring berjalannya waktu, industry kesehatan menemukan alternatif lain yang lebih praktis untuk mensterilkan tangan, yaitu dengan hand sanitizer. Hand sanitizer adalah cairan pembersih tangan tanpa bilas yang mengandung alkohol minimal 60%. Cairan anti septic ini biasanya digunakan sebagai pengganti air dan sabun saat berada di tempat umum, sekolah, atau piknik di luar rumah. Mempertimbangkan kepraktisan yang ditawarkan, banyak orang tua yang beralih ke hand sanitizer dari pada harus repot-repot membawa anaknya ke depan wastafel untuk mencuci tangan. Namun, apakah cairan anti kuman ini benar-benar mampu menggantikan fungsi air dan sabun sebagai perangkat cuci tangan konvensional?

Mencuci tangan dengan air plus sabun dan menggunakan hand sanitizer ternyata sama-sama baiknya. Masing-masing metode memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri yang bisa Anda simak pada ulasan singkat berikut.

Mencuci tangan dengan air

Menurut Centers for Disease Control di Amerika Serikat, mencuci tangan dengan air dan sabun adalah cara terbaik untuk mengurangi jumlah kuman di tangan. Apalagi jika kotoran di tangan Anda dan si kecil benar-benar terlihat, lebih baik cucilah tangan dengan cara biasa (bukan hand sanitizer). Hand sanitizer memang terbukti efektif mengurangi jumlah kuman pada tangan, tapi tidak membersihkan semua mikro organism berbahaya yang ada. Seandainya pun harus menggunakan hand sanitizer karena ketiadaan air, pilihlah yang mengandung alkohol minimal 60%.

Masalah yang timbul saat menjalankan ritual cuci tangan adalah anak-anak sering teburu-buru saat melakukan aktivitas ini. Padahal, ahli kesehatan menyarankan untuk menggosok tangan dengan sabun antara 10-15 detik. Walaupun kelihatannya sebentar, 15 detik adalah waktu yang membosankan untuk hanya berdiam di depan wastafel.

Hand sanitizer

Hand sanitizer memiliki kelebihan pada tingkat kenyamanan, terutama bagi orang tua. Saat harus mengganti popok si kecil di tempat umum dan tak ada air serta sabun untuk membasuh tangan, hand sanitizer bisa menjadi dewa penolong. Belum lagi kandungan moisturizer yang akan menjaga tangan Anda tetap halus dan lembut setelah pemakaian.

Namun dibalik semua kelebihan itu, penggunaan cairan pembersih tangan ini bisa sangat berbahaya bagi anak-anak. Beberapa kasus yang pernah terjadi, anak-anak keracunan hand sanitizer karena mereka tergoda untuk menjilatnya. Padahal, kandungan alkohol di dalamnya sangat tinggi yakni di atas 60%. Artinya, penggunaan hand sanitizer pada anak harus dalam pengawasan orang dewasa. Pastikan sanitizer benar-benar kering dan menguap dari tangan buah hati sebelum ia menyentuh apapun, terutama makanan.

http://id.she.yahoo.com/cuci-tangan-vs-hand-sanitizer-mana-yang-lebih-092926351.html

Akhirnya Indonesia bisa nikmati layanan internet 4G LTE

Ada kabar baik bagi pecinta teknologi yang tinggal di Jakarta: sekarang kecepatan internet 4G tersedia secara luas di kawasan tersebut. Kami tidak berbicara tentang perangkat Bolt yang mulai dijual bulan lalu, melainkan tentang layanan broadband baru dari penyedia layanan internet First Media. Seberapa cepat? Hingga 100 Mbps!
Layanan yang bernama FastNet Infinite ini diam-diam diluncurkan sejak bulan lalu dengan biaya Rp 3 juta per bulan. FastNet Infinite saat ini hanya tersedia di wilayah tertentu, yaitu Kebon Jeruk, Cinere, Karawaci, Bandengan, Kelapa Gading, beberapa daerah di Depok dan Ujung Menteng. Tim First Media masih terus bekerja untuk menjangkau seluruh wilayah Jakarta, Bandung, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Sebelumnya, kecepatan tertinggi layanan broadband First Media adalah 30 Mbps

Menurut IndoTelko, First Media memiliki sekitar 1.100 pemancar untuk mendukung kecepatan 4G. First Media berencana untuk membuat setidaknya dua ribu pemancar lagi untuk memastikan pelanggan mendapatkan akses yang bagus.
First Media berencana untuk memulai upaya pemasaran untuk layanan ini di kuartal pertama 2014 setelah mendapat persetujuan pemerintah. Meski saat ini pemasarannya belum dimulai, pelanggan sudah dapat berlangganan layanan tersebut.
Anda dapat mengetahui lebih lanjut tentang FastNet Infinite di sini.

Perilaku Tata Ruang lalu Banjir

oleh : tubagus

Pernahkah kita sedikit merenungkan apa yang menyebabkan musibah banjir saat ini sangat rentan terjadi ? kenapa ini bisa melanda beberapa daerah di kita atau berpikir untuk menemukan solusi kenapa masalah banjir ini seolah tidak pernah selesai. Banjir yang terus terjadi seolah-olah menjadi tradisi musibah di tiap tahunnya. Dari tahun ke tahun berita mengenai banjir seolah menjadi tajuk utama di tiap pemberitaan baik melalui media cetak maupun elektronik.

Kebiasaan hidup sehar-hari yang seolah tidak memperdulikan akan pentingnya pengelolaan lingkungan sekitar menjadi penyebab utama kenapa musibah banjir terus terjadi. Selain itu peranan dari pemerintah yang rasanya belum terlalu maksimal dalam melaksanakan program untuk menuntaskan banjir ini. Masyarakat yang kini hidup di era globalisasi identik dengan cara yang ingin serba instan. Masyarakat tidak mau ambil pusing dengan permasalahan yang terjadi di sekitarnya termasuk permasalahan lingkungan ini.

Pola pikir yang merasa bahwa pengelolaan terkait sampah ini sudah ada yang mengelolanya yaitu dinas kebersihan lingkungan menjadikan masyarakat seolah-olah lepas tangan terhadap hal ini. Pola pikir ini semestinya sudah mulai harus dirubah karena bila di biarkan terus menerus bisa menjadi semacam pembenaran. Hal yang bersifat seolah benar tetapi padahal hakikatnya adalah salah atau sophistis ini bila tidak di rubah maka akan menjadi polemik yang berkepanjangan. Masalah banjir ini bukan hanya masalah yang bersifat individual tetapi bersifat komunal sehingga penanganannya pun memerlukan solusi dan peran aktif bersama.

Seperti apakah hubungan pembangunan di daerah dengan musibah banjir ini ? Banjir juga di sebabkan karena pola pembangunan tata ruang daerah yang salah sehingga di daerah-daerah seperti di perkotaan kehilangan daya resap airnya karena pembangunan gedung-gedung beton pencakar langit dan gorong-gorong yang penuh sampah menjadi masyarakat harus menerima dampak dari perilakunya. Perlunya pembangunan yang berorientasi pada pola-pola pembangunan yang berwawasan lingkungan mesti sudah harus mulai di giatkan agar masalah banjir ini cepat teratasi. Jadi pembangunan daerah itu tidak hanya melihat aspek keuntungan finasialnya saja tetapi juga keuntungan lingkungannya. Gaya hidup yang selaras antara manusia dan alam layak di kedepankan untuk mengentaskan permasalahan pola pembangunan di perkotaan ini.
 
Tapi bila pembangunan di daerah perkotaan itu sudah terlanjur tidak berwawasan pada lingkungan hidup lalu mesti seperti apa solusi yang bijaknya ? adalah pendidikan pada masyarakatnya itu sendiri karena pendidikan itu adalah upaya yang sadar dan terencana untuk memanusiakan manusia. Pendidikan yang diberikan mesti dapat melatih masyarakat itu sendiri sehingga pengetahuan, sikap, dan keterampilan masyarakat terhadap lingkungan itu dapat terus bergerak maju. Dengan begitu niscaya pembangunan yang sudah terlanjur salah kaprah tersebut dapat ditanggulangi

http://sosbud.kompasiana.com/2014/01/20/-perilaku-tata-ruang-lalu-banjir-629221.html 

Desy Ratnasari Jadi Dosen




AKTRIS Desy Ratnasari kini sudah jarang tampil di hingar-bingar dunia hiburan.
Selain karena sibuk di dunia politik dengan partai dan pencalonannya sebagai anggora DPR-RI 2014-2019, wanita berusia 40 tahun itu juga kini memiliki pekerjaan lain.
Sudah 2 tahun terakhir Desy menjadi dosen ilmu psikologi.
"Kebetulan saya mengajar psikologi di Universitas Atmajaya. Sudah 2 tahun," ungkap Desy usai menjadi bintang tamu program Show Imah di Studio Trans TV, Jl. Tendean, Jakarta Selatan, Senin (20/1).
Bagi janda satu anak itu, bekerja sebagai tenaga pengajar di perguruan tinggi memiliki kesenangan sendiri.
Desy yang mengaku senang berbagi itu pun bangga jika ilmu yang dimiliki bisa bermanfaat bagi orang lain.
"Memanfaatkan ilmu yang kita punya. Kita merasa lebih inilah ya buat orang. Terpenting senang bisa berbagi sesuatu yang kita miliki itu lebih baik sehingga kita bisa jauh lebih bermanfaat untuk orang lain," tandasnya

Thursday, 3 May 2012

Tulisan Dahlan Iskan tentang alm.Widjajono Partowidagdo (Wakil Menteri ESDM)


Prof. Widjajono Partowidagdo, Ph.D

VIVAnews - Saya terkesan dengan logika berpikir Prof. Widjajono Partowidagdo, Wakil Menteri ESDM yang baru saja meninggal dunia di pendakiannya ke Gunung Tambora Nusa Tenggara Barat, Sabtu lalu: kurangi pemakaian bahan bakar minyak (BBM).

Kalau sudah tahu bahwa produksi minyak kita terus menurun, kemampuan kita membangun kilang juga terbatas, dan pertambahan kendaraan tidak bisa dicegah, mengapa kita terus mempertahankan pemakaian BBM?

Almarhum sering sekali mengajak saya berbicara soal itu. Almarhum merasa perdebatan soal BBM yang riuh-rendah selama ini sangat tidak mendasar. Tidak menyelesaikan akar persoalan. Hanya menimbulkan huru-hara politik. Saya sangat setuju dengan konsep almarhum untuk semakin beralih ke gas. Hanya saja memang diperlukan upaya yang ekstra keras untuk mengalihkan kebiasaan menggunakan BBM ke bahan bakar gas (BBG).

Almarhum juga sangat setuju mobil listrik nasional diperjuangkan. Bahkan almarhum mengatakan BBM harus dikeroyok ramai-ramai dari segala jurusan. Terutama dari jurusan gas dan dari jurusan listrik. Tanpa usaha yang keras dari dua jurusan itu akan terus timbul kesan di masyarakat bahwa pemerintah, khususnya Pertamina, sengaja lebih menyukai impor BBM.

Pertamina dikesankan lebih senang impor BBM karena bisa menjadi objek korupsi dan kolusi. Istilah mafia impor BBM begitu gencarnya ditudingkan–entah seperti apa wujud mafia itu.
Seserius-seriusnya Pertamina berupaya memberantas korupsi, tuduhan itu akan terus berlangsung. Apalagi, kenyataannya, impor BBM-nya memang terus meningkat.

Tidak mungkinkah kita berhenti impor BBM? Tentu saja bisa. Tapi syaratnya berat sekali: kita harus memiliki kilang yang cukup. Minyak mentah itu baru bisa jadi BBM kalau sudah diolah di kilang. Kebutuhan BBM kita sekarang ini sekitar 50 juta kiloliter/tahun. Sedang kilang kita sendiri hanya bisa memproduksi BBM kurang dari separonya.

Kalau kita menghendaki tidak mau impor BBM lagi, kita harus membangun kilang baru sebanyak dan sebesar yang telah ada sekarang. Saat ini kita punya tujuh kilang minyak: Pangkalan Brandan, Dumai, Musi, Cilacap, Balikpapan, Kasim, dan Balongan. Total kapasitas produksi BBM-nya kurang dari 25 juta kiloliter/tahun.

Di sinilah pokok persoalannya. Mampukah kita membangun sekaligus kilang-kilang baru sebanyak kekurangannya itu?
Sejak 15 tahun lalu, kita memang tidak pernah punya kemampuan membangun kilang baru. Kilang terbaru kita umurnya sudah 18 tahun. Yakni kilang Balongan, Jabar, yang dibangun oleh Presiden Soeharto di tahun 1994. Presiden-presiden berikutnya tidak sempat memikirkan pembangunan kilang baru. Padahal jumlah kendaraan terus bertambah. Akibatnya impor BBM tidak bisa dihindarkan. Bahkan terus meningkat.
Baru tahun lalu Presiden SBY memutuskan membangun kilang tambahan di Cilacap. Tahun ini Presiden SBY juga sudah memutuskan membangun dua kilang lagi. Tapi Pertamina tidak mungkin membiayai pembangunan kilang-kilang itu sendirian. Sebuah kilang dengan kapasitas 300 ribu barel, memerlukan biaya investasi sampai Rp70 triliun. Bayangkan kalau harus membangun tiga kilang sekaligus.

Pertamina harus menggandeng investor. Mencari investor pun tidak mudah. Di samping biayanya sangat besar, masih ada kesulitan lain: sebuah kilang, baru bisa dibangun manakala sudah diketahui jenis minyak mentah seperti apa yang akan diproses di situ. Beda jenis minyak mentahnya, beda pula desain teknologinya.
Para pemilik minyak mentah tahu posisi strategisnya itu. Mereka bisa mendikte banyak hal: mendikte harga dan mendikte pasokan. Investor kilang yang ingin masuk ke Indonesia, misalnya, meminta berbagai syarat yang luar biasa beratnya: tanahnya seluas 600 ha harus gratis, pemerintah harus menjamin macam-macam, dan pajaknya minta dibebaskan dalam masa yang sangat panjang.

Kalau dalam masa pemerintahan Presiden SBY ini berhasil membangun tiga proyek kilang  sekaligus, tentu ini sebuah warisan yang sangat berharga. Saya sebut warisan karena bukan Presiden SBY yang akan menikmati hasilnya, tapi pemerintahan-pemerintahan berikutnya.

Dari gambaran itu, jelaslah bahwa sampai lima tahun ke depan impor BBM kita masih akan terus meningkat. Kecuali ide almarhum soal konversi ke gas itu berhasil dilakukan dan mobil listrik nasional berhasil dimassalkan. Kilang-kilang baru itu, seandainya pun berhasil dibangun, baru akan menghasilkan BBM di tahun 2018.

Kita tahu persis apa yang terjadi dalam lima tahun ke depan. Saat kilang-kilang itu nanti mulai berproduksi kebutuhan BBM sudah naik lagi entah berapa puluh juta kiloliter lagi. Berarti, impor lagi. Impor lagi.
Di sinilah Prof. Widjajono geram. Kenaikan harga BBM, menurut Beliau, seharusnya juga dilihat dari aspek pengendalian impor ini. Yang tidak menyetujui kenaikan harga BBM, menurut Beliau, pada dasarnya sama saja dengan menganjurkan impor BBM sebanyak-banyaknya!

Kalau Prof. Widjajono sering mengajak saya bicara soal konversi gas, saya sering mengajak bicara Beliau soal mobil listrik nasional. Termasuk perkembangan terakhirnya. Saya tahu konversi gas memang bisa dilakukan lebih cepat dari mobil listrik nasional. Namun kami sepakat dua-duanya harus dijalankan. Kami juga sepakat bahwa upaya ini tidak mudah, tapi pasti berhasil kalau dilakukan dengan semangat Angkatan 45.

Saya bersyukur sempat menginformasikan perkembangan terakhir mobil listrik nasional. Ribuan email dan SMS mendukung dengan gegap-gempita kehadiran mobil listrik nasional itu. Dan yang secara serius mengajukan konsep, desain, dan siap memproduksinya ada empat orang.

Saya sudah melakukan kontak intensif dengan empat orang tersebut. Saya juga sudah membuat grup email bersama di antara empat orang tersebut. Kami bisa melakukan rapat jarak-jauh membicarakan program-program ke depan. Tanggal 21 April kemarin, kami menyelenggarakan rapat sesuai dengan program semula, meskipun rapat itu berlangsung di dunia maya.

Empat orang tersebut adalah orang-orang muda yang luar biasa.
Ada nama Mario Rivaldi. Dia kelahiran Bandung, pernah kuliah di ITB, kemudian mendapat bea siswa kuliah di Jerman. Mario bahkan sudah melahirkan prototype sepeda motor listrik dan mobil listrik. Saya sudah pernah mencobanya di Cimahi. Mario sangat siap memproduksi mobil listrik nasional. Selama ujicoba itu tiga tahun terakhir, Mario bekerjasama dengan LIPI dan ITB.

Ada nama Dasep Ahmadi yang juga kelahiran Tanah Sunda. Dasep lulusan ITB (Teknik Mesin), yang kemudian sekolah di Jepang. Dasep pernah bekerja lama di industri mobil sehingga tahu persis soal permobilan. Kini Dasep mengembangkan industri mesin presisi dan memasok mesin-mesin untuk industri mobil. Dasep sangat siap melahirkan prototype mobil listrik nasional dalam dua bulan ke depan. Saat ini Dasep sedang mengerjakan mobil-mobil itu.

Ada nama Ravi Desai. Anak muda ini lahir di Gujarat, tapi sudah lama menjadi warga negara Indonesia. Dia lulusan universitas di India dan kini menekuni banyak bidang inovasi. Dia mendirikan D Innovation Center dengan fokus ke energi. Ravi juga menekuni DC dan AC drive dan sudah memasarkannya sampai ke luar negeri. Saat ini Ravi sedang mengerjakan dua contoh mobil listrik nasional dan sudah akan selesai dalam dua bulan mendatang.

Ada pula nama Danet Suryatama. Anak Pacitan ini setelah lulus ITS melanjutkan kuliah di Michigan, AS. Danet kemudian bekerja di bagian teknik pabrik mobil besar di Amerika Setikat, Chrysler, selama 10 tahun. Danet sangat siap memproduksi mobil listrik nasional. Saat ini, sambil mondar-mandir Amerika-Indonesia, Danet sedang menyelesaikan contoh mobil listrik nasional yang juga siap dikendarai dalam dua bulan ke depan.

Tentu saya bisa salah. Lantaran email yang masuk jumlahnya ribuan, mungkin saja ada nama-nama lain yang tidak kalah hebat dan siapnya namun terlewat dari mata saya. Untuk itu saya siap menerima koreksi dan nama susulan.
Kepada keempat orang itu saya juga sudah informasikan betapa besar perhatian Presiden SBY pada perencanaan mobil listrik nasional ini. Saya juga kemukakan suasana pertemuan antara Presiden SBY dan empat rektor perguruan tinggi terkemuka (ITB, UGM, UI, dan ITS) yang penuh dengan semangat.
Waktu itu para rektor menyatakan sangat mendukung kelahiran mobil listrik nasional ini dan memang sudah waktunya dilahirkan. Para rektor juga mengemukakan masing-masing perguruan tinggi mereka siap memberikan dukungan apa saja.

Sebenarnya saya ingin menghadirkan Prof. Widjajono dalam pertemuan dengan empat putra petir itu dalam waktu dekat. Tapi Prof. Widjajono lebih dulu meninggalkan kita. Meski begitu Prof., saya berjanji kepada Profesor akan tetap meng-emailkan hasil pertemuan dengan empat putra petir itu ke alamat email Anda yang pernah Anda berikan kepada saya. Saya juga berjanji akan mengirimkan foto-foto mobil listrik nasional itu nanti ke alamat email Anda.

*Dahlan Iskan, Menteri Negara BUMN