Berbagi ilmu, berbagi informasi, berbagi pengalaman untuk sebuah kematangan intelektual Indonesia Raya
Saturday, 21 April 2012
DR.H.ZAINAL ASIKIN,SH,SH: Mataram Undercover
DR.H.ZAINAL ASIKIN,SH,SH: Mataram Undercover: MATARAM UNDERCOVER PENELITIAN TENTANG PENGARUH RUMAH KOS BAGI TINDAKAN PIDANA DI KOTA MATARAM , PENGGUNAAN NARKOBA, dan HUBUNGAN SEKS PR...
DR.H.ZAINAL ASIKIN,SH,SH: Hukum Singapura
DR.H.ZAINAL ASIKIN,SH,SH: Hukum Singapura: Sistem Hukum Singapura 1. PENGANTAR ...
DR.H.ZAINAL ASIKIN,SH,SH: Resahnya Unram Karena Nazarudin
DR.H.ZAINAL ASIKIN,SH,SH: Resahnya Unram Karena Nazarudin: RESAHNYA UNRAM KARENA kasus NAZARUDIN Oleh Dr.H.Zainal Asikin,SH,SU A. Pengantar Dalam beberapa hari terakhir ini ...
Saturday, 14 April 2012
Kisah Dari Tetangga Sebelah
![]() |
| 3,5 juta warga Inggris tidak pernah melihat tetangganya |
Pada liburan Paskah ini saya kedatangan pasangan yang
tinggal di sebelah rumah kami. Kami kenal sudah sejak beberapa lama, namun baru
kali ini mereka datang dan ngobrol di rumah kami sambil minum teh.
Bagi Anda di Indonesia, mungkin akan mengatakan tidak ada
yang istimewa dari kunjungan tetangga ini. Bukankah tetangga harus saling
kenal?
Saya tidak tahu situasi persisnya di negara-negara lain,
tetapi di Inggris, survei menunjukkan 3,5 juta warga mengaku tidak pernah
melihat tetangga, apalagi menemui mereka.
Terungkap juga dalam survei itu, bahwa 1,1 juta warga di
Inggris lebih memilih memanggil polisi, ketika mereka merasa tidak nyaman
dengan tetangga, mungkin karena suara musik yang terlalu keras, atau karena
sebab-sebab lain.
Sepertinya mereka lebih suka polisi yang mengatasi masalah,
daripada menemui dan meminta tetangga untuk mengecilkan suara musik.
Hasil survei ini menjadi salah satu pendukung kesimpulan
bahwa warga di Inggris makin terisolasi.
Para pengamat sosial mengatakan, beberapa dekade lalu
pemandangan tetangga saling bersapa dan mengobrol di pagar kebun belakang
sambil menjemur pakaian adalah sesuatu yang lumrah.
Pertemuan warga
Kini, pemandangan di atas makin sulit ditemui.
Bersosial dengan tetangga dinilai makin jarang dilakukan.
Anggota komunitas yang menggelar perayaan di jalan, biasa
disebut street party, untuk menandai peristiwa tertentu seperti perkawinan
kerajaan, mungkin makin kikuk ketika untuk pertama kalinya saling bertemu dan
bersapa.
Di luar acara street party ini, sebenarnya masih ada semacam
rapat RT di Inggris.
Di tempat saya tinggal misalnya ada acara temu warga yang
digelar beberapa bulan sekali, yang digagas oleh polisi London. Dalam pertemuan
ini antara lain dibahas masalah kebersihan dan keamanan lingkungan.
Kembali ke kegiatan bersosial dengan tetangga. Para pengamat
mengatakan perkembangan ekonomi dan teknologi juga ikut berperan membuat warga
tidak kenal dengan tetangga.
Saat ini misalnya sangat sulit ditemukan kantor pos, apalagi
pompa air bersama di tengah pemukiman warga, yang berarti kesempatan untuk
bertemu dan ngobrol antar warga menjadi sangat kecil.
Ikatan geografis luntur?
Supermarket besar dan kantor pos kini cenderung jauh dari
pemukiman.
Aneka hiburan, baik berupa acara televisi maupun game, kini
tersedia di semua rumah tangga, yang membuat orang lebih suka tinggal di dalam
rumah.
Apakah ini perkembangan yang mengkhawatirkan? Mungkin. Namun
ada juga yang menganggapnya sebagai perkembangan sosial yang tidak bisa
dihindari.
Ada tipe orang yang senang bersosial, ada juga yang tidak,
kata Martin, warga di London utara seperti dikutip koran Independent.
Juga, di era Facebook dan Twitter, warga mungkin tidak kenal
betul tetangga mereka namun terkoneksi dengan ratusan bahkan ribuan orang
melalui internet.
Komunitas tidak hanya diikat oleh faktor geografis, tetapi
juga oleh kerja, dan media sosial di internet.
Tentunya memiliki tetangga yang baik dan ramah patut
disyukuri. Kalau tidak, tentu bukan akhir dari segala-galanya.
Article:
Oleh: Muhammad Susilo
http://www.bbc.co.uk/blogs/indonesia/london/2012/04/kisah-dari-tetangga-sebelah.html
Menteri Energi Inggris Mundur Gara-gara Ngebut
![]() |
| Chris Huhne |
Mungkin Anda bertanya-tanya ketika membaca berita bahwa
seorang menteri di Inggris mundur gara-gara ngebut. "Kan hanya ngebut.
Masak dia harus meninggalkan kursi menteri. Itu kan pelanggaran kecil,"
begitu mungkin Anda berkomentar.
Sepertinya kecil dan sepele. Tidak serius. Tapi ternyata
kasus yang menimpa Menteri Energi Inggris, Chris Huhne, tidak sekedar mengebut.
Agar jelas duduk persoalannya, izinkan saya menjelaskan
latar belakang kasus ini, yang terjadi pada suatu malam di tahun2003.
Huhne, yang ketika itu anggota Parlemen Eropa yang berkantor
di Strasbourg, Prancis, tiba di Stansted -satu kota di pinggiran London- dengan
pesawat terbang. Dari Stansted ia mengendarai mobil ke rumahnya. Dalam
perjalanan ini mobil Huhne tertangkap kamera karena melaju dengan kecepatan di
atas ambang yang diperbolehkan.
Sanksi pelanggaran ini adalah denda dan pemberian poin di
Surat Izin Mengemudi (SIM). Poin ini menunjukkan bahwa pemegang SIM telah
melakukan pelanggaran lalu lintas. Makin berat kadarnya, makin besar poin yang
dijatuhkan.
Nah, Huhne diduga meminta orang lain -belakangan diyakini
istrinya sendiri ketika itu- untuk mengambil poin ini.
Anda mungkin akan beralasan tidak masalah istri mengambil
poin suami dan sebaiknya media tak perlu membesar-besarkan persoalan.
Tapi, belakangan terungkap bahwa kecil kemungkinan istri
Huhne di mobil tersebut ketika pelanggaran terjadi. Penelusuran koran The
Guardian dan Daily Telegraph menunjukkan istri Huhne sedang menghadiri seminar
dan jamuan makan malam di pusat kota London ketika Huhne diduga melakukan
pelanggaran lalu lintas.
Kejujuran
Ketika dilakukan penyelidikan oleh polisi, Huhne tetap
memegang klaim bahwa ia tidak mengendarai mobil tersebut.
Kasus ini kemudian dilimpahkan ke kejaksaan yang
menyimpulkan hari Jumat (3/2/2012) terdapat cukup bukti untuk mendakwa Huhne telah
menghalangi proses hukum.
Sebelum kejaksaan resmi mengeluarkan dakwaan, Wakil Perdana
Menteri Nick Clegg mengatakan kasus Huhne bukan perkara biasa. Clegg dan Huhne
berasal dari partai yang sama, Liberal Demokrat, mitra koalisi Partai
Konservatif di pemerintah pimpinan Perdana Menteri David Cameron.
"Kasus Huhne adalah kasus serius kalau ia didakwa
secara resmi," kata Clegg pada pekan terakhir Januari lalu.
"Kode etik menteri menyebutkan, seorang menteri tidak
harus langsung mundur ketika menghadapi masalah. Namun yang perlu diketahui
masyarakat adalah, kami ingin pemerintah dipandang menegakkan standar tertinggi
untuk urusan kejujuran," kata Clegg.
Kata kuncinya adalah kejujuran dan dalam kasus ini Menteri
Huhne diduga telah berbohong kepada aparat penegak hukum.
![]() |
| Wakil PM Nick Clegg mengatakan pemerintah sangat menjunjung tinggi kejujuran. |
Di Inggris, sama halnya dengan banyak negara lain,
integritas pribadi para pejabat publik adalah segala-galanya.
Untuk Pak Menteri Huhne, pengadilan nanti yang akan
memutuskan apakah ia telah berbohong dan menghalangi proses hukum.
Untuk sementara ini, Huhne harus merelakan kursi
Menteri Energi lepas dari genggamannya...
Sumber: http://www.bbc.co.uk/blogs/indonesia/london/2012/02/ngebut-dan-lepasnya-jabatan-me.html
Subscribe to:
Posts (Atom)


