Thursday, 4 June 2009

Prita Mulyasari

Dunia hukum merasa dipermalukan lagi bulan ini dengan adanya kasus Prita Mulyasari, seorang ibu rumah tangga, yang ditahan di LP Wanita Tangerang, gara-gara menyampaikan keluhannya (uneg2) kepada teman-teman dekatnya melalui email atas pengalamannya berobat di RS OMNI Internasional Tangerang. Email itu kemudian menyebar melalui mailing lis ke public.
Dalam emailnya, Prita merasa dibohongi oleh diagnosa dokter ketika dirawat di RS tersebut pada Agustus 2008. Dokter semula memvonis Prita menderita demam berdarah, namun kemudian menyatakan dia terkena virus udara. Tak hanya itu, dokter memberikan berbagai macam suntikan dengan dosis tinggi, sehingga Prita mengalami sesak nafas.

Itu yang kemudian membuat Prita pindah rumah sakit. Saat hendak pindah ke RS lainnya, Prita mengajukan komplain karena kesulitan mendapatkan hasil laboratorium medis. Namun, keluhannya kepada RS Omni Internasional itu tidak pernah ditanggapi, sehingga dia mengungkapkan kronologi peristiwa yang menimpanya kepada teman-temannya melalui email dan berharap agar hanya dia saja yang mengalami hal serupa.
PT Sarana Mediatama Internasional, pengelola rumah sakit itu, rupanya menganggap nama baiknya tercemar oleh email tersebut, mereka lalu menggugat Prita, baik secara perdata maupun pidana. Pengadilan Negeri Tangerang memutuskan Prita kalah dalam gugatan perdata dengan hukuman – kalau tidak salah Rp.300 jutaan. Sedangkan sidang pidananya sedang berlangsung.
Dalam rangka pidana ini, sejak 13 Mei lalu Prita dititipkan Kejaksaan di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Tangerang (Rabu petang 3 Juni sudah dibebaskan dari LP dan hanya dikenakan tahanan luar setelah mendapat tekanan yang luar biasa dari berbagai pihak – tidak terkecuali Presiden SBY dan Wakil Presiden JK). Jadi Prita nginap di Penjara selama 14 hari. Yang paling menyentuh adalah dia harus terpisah dengan anaknya yang masih kecil kecil.
Kejanggalannya adalah pasal yang dikenakan oleh Polisi berbeda dengan Jaksa, jika Polisi hanya mengenakan pasal pencemaran KUHP – dengan alasan ini Polisi tidak menahan Prita di samping menurut pihak kepolisian, ada alasan kemanusiaan, karena Ibu Prita memiliki 2 orang anak yang masih sangat kecil yang masih sangat membutuhkan Ibunya – sedangkan Jaksa rupanya menambahnya dengan UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) yang memberi ancaman hukuman maksimal 6 tahun dan atau denda Rp. 1 miliar (baca pasal 27 ayat 3 UU No. 11 Th 2008) dengan alasan ini maka Jaksa menahan Prita. Jaksa jelas tidak mempertimbangkan unsur kemanusiaan di sini.
Anehnya UU ITE sebenarnya belum berlaku tetapi entah dengan alasan apa dipergunakan oleh Jaksa, selanjutnya Jaksa juga melanggar prosedur Hukum Acara karena penambahan itu seharusnya dikembalikan ke Polisi dan Polisilah yang menambahkan untuk diajukan kembali ke Jaksa.
Kitapun bertanya mengapa Ibu Prita harus ditahan, Secara pribadi saya berpendapat bahwa hukum harus diletakkan dalam semangat bingkai “kemanusiaan dan keadilannya” Jika tidak maka hukum itu sama saja seperti mesin penghukum yang tidak memiliki hati. Bayangkan gara2 email yang isinya cuma keluhan harus mendapat ganjaran seberat itu? Gila!.
Kecurigaan kita tertuju pada Jaksa yang semberono menempatkan hukumnya. Demikian juga Hakim Perdata yang mengabulkan gugatan Rumah Sakit – sama-sama aneh. Jangan heran jika timbul kecurigaan terhadap Jaksa maupun Hakim, kedua lembaga ini masih kerap ditengarai menerima uang suap.

Berikut ini adalah email Prita yang dikutip dari http://www.mail-archive.com/parentsguide@yahoogroups.com/msg09863.html

From: prita mulyasari [mailto:prita. mulyasari@ yahoo.com]
Sent: Friday, August 15, 2008 3:51 PM
To:
Subject: Penipuan OMNI Iternational Hospital Alam Sutera Tangerang

Jangan sampai kejadian saya ini akan menimpa ke nyawa manusia lainnya, terutama anak-anak, lansia dan bayi. Bila anda berobat, berhati-hatilah dengan kemewahan RS dan title International karena semakin mewah RS dan semakin pintar dokter maka semakin sering uji coba pasien, penjualan obat dan suntikan.
Saya tidak mengatakan semua RS International seperti ini tapi saya mengalami kejadian ini di RS Omni International.
Tepatnya tanggal 7 Agustus 2008 jam 20.30 WIB, saya dengan kondisi panas tinggi dan pusing kepala, datang ke RS. OMNI Intl dengan percaya bahwa RS tersebut berstandard International, yang tentunya pasti mempunyai ahli kedokteran dan manajemen yang bagus. Saya diminta ke UGD dan mulai diperiksa suhu badan saya dan hasilnya 39 derajat. Setelah itu dilakukan pemeriksaan darah dan hasilnya adalah thrombosit saya 27.000 dengan kondisi normalnya adalah 200.000, saya diinformasikan dan ditangani oleh dr. Indah (umum) dan dinyatakan saya wajib rawat inap.
Dr. Indah melakukan pemeriksaan lab ulang dengan sample darah saya yang sama dan hasilnya dinyatakan masih sama yaitu thrombosit 27.000. Dr. Indah menanyakan dokter specialist mana yang akan saya gunakan tapi saya meminta referensi darinya karena saya sama sekali buta dengan RS ini. Lalu referensi dr. Indah adalah dr. Henky. Dr. Henky memeriksa kondisi saya dan saya menanyakan saya sakit apa dan dijelaskan bahwa ini sudah positif demam berdarah.
Mulai malam itu saya diinfus dan diberi suntikan tanpa penjelasan atau ijin pasien atau keluarga pasien suntikan tersebut untuk apa. Keesokan pagi, dr.Henky visit saya dan menginformasikan bahwa ada revisi hasil lab semalam bukan 27.000 tapi 181.000 (hasil lab bisa dilakukan revisi?), saya kaget tapi dr. Henky terus memberikan instruksi ke suster perawat supaya diberikan berbagai macam suntikan yang saya tidak tahu dan tanpa ijin pasien atau keluarga pasien.
Saya tanya kembali jadi saya sakit apa sebenarnya dan tetap masih sama dengan jawaban semalam bahwa saya kena demam berdarah. Saya sangat kuatir karena dirumah saya memiliki 2 anak yang masih batita jadi saya lebih memilih berpikir positif tentang RS dan dokter ini supaya saya cepat sembuh dan saya percaya saya ditangani oleh dokter profesional standard Internatonal.
Mulai Jumat terebut saya diberikan berbagai macam suntikan yang setiap suntik tidak ada keterangan apapun dari suster perawat, dan setiap saya meminta keterangan tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan, lebih terkesan suster hanya menjalankan perintah dokter dan pasien harus menerimanya. Satu box lemari pasien penuh dengan infus dan suntikan disertai banyak ampul. Tangan kiri saya mulai membengkak, saya minta dihentikan infus dan suntikan dan minta ketemu dengan dr.Henky namun dokter tidak datang sampai saya dipindahkan ke ruangan.
Lama kelamaan suhu badan saya makin naik kembali ke 39 derajat dan datang dokter pengganti yang saya juga tidak tahu dokter apa, setelah dicek dokter tersebut hanya mengatakan akan menunggu dr. Henky saja.Esoknya dr. Henky datang sore hari dengan hanya menjelaskan ke suster untuk memberikan obat berupa suntikan lagi, saya tanyakan ke dokter tersebut saya sakit apa sebenarnya dan dijelaskan saya kena virus udara. Saya tanyakan berarti bukan kena demam berdarah tapi dr. Henky tetap menjelaskan bahwa demam berdarah tetap virus udara. Saya dipasangkan kembali infus sebelah kanan dan kembali diberikan suntikan yang sakit sekali.
Malamnya saya diberikan suntikan 2 ampul sekaligus dan saya terserang sesak napas selama 15 menit dan diberikan oxygen. Dokter jaga datang namun hanya berkata menunggu dr. Henky saja. Jadi malam itu saya masih dalam kondisi infus padahal tangan kanan saya pun mengalami pembengkakan seperti tangan kiri saya. Saya minta dengan paksa untuk diberhentikan infusnya dan menolak dilakukan suntikan dan obat-obatan.
Esoknya saya dan keluarga menuntut dr. Henky untuk ketemu dengan kami namun janji selalu diulur-ulur dan baru datang malam hari. Suami dan kakak-kakak saya menuntut penjelasan dr. Henky mengenai sakit saya, suntikan, hasil lab awal yang 27.000 menjadi revisi 181.000 dan serangan sesak napas yang dalam riwayat hidup saya belum pernah terjadi.
Kondisi saya makin parah dengan membengkaknya leher kiri dan mata kiri saya. Dr, Henky tidak memberikan penjelasan dengan memuaskan, dokter tersebut malah mulai memberikan instruksi ke suster untuk diberikan obat-obatan kembali dan menyuruh tidak digunakan infus kembali. Kami berdebat mengenai kondisi saya dan meminta dr. Henky bertanggung jawab mengenai ini dari hasil lab yang pertama yang seharusnya saya bisa rawat jalan saja. Dr. Henky menyalahkan bagian lab dan tidak bisa memberikan keterangan yang memuaskan.
Keesokannya kondisi saya makin parah dengan leher kanan saya juga mulai membengkak dan panas kembali menjadi 39 derajat namun saya tetap tidak mau dirawat di RS ini lagi dan mau pindah ke RS lain. Tapi saya membutuhkan data medis yang lengkap dan lagi-lagi saya dipermainkan dengan diberikan data medis yang fiktif.
Dalam catatan medis, diberikan keterangan bahwa BAB saya lancar padahal itu kesulitan saya semenjak dirawat di RS ini tapi tidak ada follow upnya samasekali. Lalu hasil lab yang diberikan adalah hasil thrombosit saya yang 181.000 bukan 27.000. Saya ngotot untuk diberikan data medis hasil lab 27.000 namun sangat dikagetkan bahwa hasil lab 27.000 tersebut tidak dicetak dan yang tercetak adalah 181.000, kepala lab saat itu adalah dr. Mimi dan setelah saya complaint dan marah-marah, dokter tersebut mengatakan bahwa catatan hasil lab 27.000 tersebut ada di Manajemen Omni maka saya desak untuk bertemu langsung dengan Manajemen yang memegang hasil lab tersebut.
Saya mengajukan complaint tertulis ke Manajemen Omni dan diterima oleh Ogi (customer service coordinator) dan saya minta tanda terima. Dalam tanda terima tersebut hanya ditulis saran bukan complaint, saya benar-benar dipermainkan oleh Manajemen Omni dengan staff Ogi yang tidak ada service nya sama sekali ke customer melainkan seperti mencemooh tindakan saya meminta tanda terima pengajuan complaint tertulis.
Dalam kondisi sakit, saya dan suami saya ketemu dengan Manajemen, atas nama Ogi (customer service coordinator) dan dr. Grace (customer service manager) dan diminta memberikan keterangan kembali mengenai kejadian yang terjadi dengan saya.
Saya benar-benar habis kesabaran dan saya hanya meminta surat pernyataan dari lab RS ini mengenai hasil lab awal saya adalah 27.000 bukan 181.000 makanya saya diwajibkan masuk ke RS ini padahal dengan kondisi thrombosit 181.000 saya masih bisa rawat jalan.
Tanggapan dr. Grace yang katanya adalah penanggung jawab masalah complaint saya ini tidak profesional samasekali. Tidak menanggapi complaint dengan baik, dia mengelak bahwa lab telah memberikan hasil lab 27.000 sesuai dr. Mimi informasikan ke saya. Saya minta duduk bareng antara lab, Manajemen dan dr. Henky namun tidak bisa dilakukan dengan alasan akan dirundingkan ke atas (Manajemen) dan berjanji akan memberikan surat tersebut jam 4 sore.
Setelah itu saya ke RS lain dan masuk ke perawatan dalam kondisi saya dimasukkan dalam ruangan isolasi karena virus saya ini menular, menurut analisa ini adalah sakitnya anak-anak yaitu sakit gondongan namun sudah parah karena sudah membengkak, kalau kena orang dewasa yang ke laki-laki bisa terjadi impoten dan perempuan ke pankreas dan kista.
Saya lemas mendengarnya dan benar-benar marah dengan RS Omni yang telah membohongi saya dengan analisa sakit demam berdarah dan sudah diberikan suntikan macam-macam dengan dosis tinggi sehingga mengalami sesak napas. Saya tanyakan mengenai suntikan tersebut ke RS yang baru ini dan memang saya tidak kuat dengan suntikan dosis tinggi sehingga terjadi sesak napas.
Suami saya datang kembali ke RS Omni menagiih surat hasil lab 27.000 tersebut namun malah dihadapkan ke perundingan yang tidak jelas dan meminta diberikan waktu besok pagi datang langsung ke rumah saya. Keesokan paginya saya tunggu kabar orang rumah sampai jam 12 siang belum ada orang yang datang dari Omni memberikan surat tersebut. Saya telepon dr. Grace sebagai penanggung jawab compaint dan diberikan keterangan bahwa kurirnya baru mau jalan ke rumah saya namun sampai jam 4 sore saya tunggu dan ternyata belum ada juga yang datang kerumah saya.
Kembali saya telepon dr. Grace dan dia mengatakan bahwa sudah dikirim dan ada tanda terima atas nama Rukiah, ini benar-benar kebohongan RS yang keterlaluan sekali, dirumah saya tidak ada nama Rukiah, saya minta disebutkan alamat jelas saya dan mencari datanya sulit sekali dan membutuhkan waktu yang lama. Logikanya dalam tanda terima tentunya ada alamat jelas surat tertujunya kemana kan ? makanya saya sebut Manajemen Omni PEMBOHONG BESAR semua.
Hati-hati dengan permainan mereka yang mempermainkan nyawa orang. Terutama dr. Grace dan Ogi, tidak ada sopan santun dan etika mengenai pelayanan customer, tidak sesuai dengan standard International yang RS ini cantum.
Saya bilang ke dr. Grace, akan datang ke Omni untuk mengambil surat tersebut dan ketika suami saya datang ke Omni hanya dititipkan ke resepsionis saja dan pas dibaca isi suratnya sungguh membuat sakit hati kami, pihak manajemen hanya menyebutkan mohon maaf atas ketidaknyamanan kami dan tidak disebutkan mengenai kesalahan lab awal yang menyebutkan 27.000 dan dilakukan revisi 181.000 dan diberikan suntikan yang mengakibatkan kondisi kesehatan makin memburuk dari sebelum masuk ke RS Omni.
Kenapa saya dan suami saya ngotot dengan surat tersebut? karena saya ingin tahu bahwa sebenarnya hasil lab 27.000 itu benar ada atau fiktif saja supaya RS Omni mendapatkan pasien rawat inap. Dan setelah beberapa kali kami ditipu dengan janji maka sebenarnya adalah hasil lab saya 27.000 adalah FIKTIF dan yang sebenarnya saya tidak perlu rawat inap dan tidak perlu ada suntikan dan sesak napas dan kesehatan saya tidak makin parah karena bisa langsung tertangani dengan baik.
Saya dirugikan secara kesehatan, mungkin dikarenakan biaya RS ini dengan asuransi makanya RS ini seenaknya mengambil limit asuransi saya semaksimal mungkin tapi RS ini tidak memperdulikan efek dari keserakahan ini.
Ogi menyarankan saya bertemiu dengan direktur operasional RS Omni (dr. Bina) namun saya dan suami saya terlalu lelah mengikuti permainan kebohongan mereka dengan kondisi saya masih sakit dan dirawat di RS lain.
Syukur Alhamdulilah saya mulai membaik namun ada kondisi mata saya yang selaput atasnya robek dan terkena virus sehingga penglihatan saya tidak jelas dan apabila terkena sinar saya tidak tahan dan ini membutuhkan waktu yang cukup untuk menyembuhkan.
Setiap kehidupan manusia pasti ada jalan hidup dan nasibnya masing-masing, benar tapi apabila nyawa manusia dipermainkan oleh sebuah RS yang dpercaya untuk menyembuhkan malah mempermainkan sungguh mengecewakan, semoga Allah memberikan hati nurani ke Manajemen dan dokter RS Omni supaya diingatkan kembali bahwa mereka juga punya keluarga, anak, orang tua yang tentunya suatu saat juga sakit dan membutuhkan medis, mudah-mudahan tidak terjadi seperti yang saya alami di RS Omni ini.
Saya sangat mengharapkan mudah-mudahan salah satu pembaca adalah karyawan atau dokter atau Manajemen RS Omni, tolong sampaikan ke dr. Grace, dr. Henky, dr.Mimi dan Ogi bahwa jangan sampai pekerjaan mulia kalian sia-sia hanya demi perusahaan Anda.
Saya informasikan juga dr. Henky praktek di RSCM juga, saya tidak mengatakan RSCM buruk tapi lebih hati-hati dengan perawatan medis dari dokter ini.

salam,

Prita Mulyasari

Manohara

Akhir-akhir ini Manohara menyedot perhatian yang luar biasa dari masyarakat Indonesia. Semua media massa, baik cetak maupun elektronik membuat berita Manohara sebagai berita nomor wahid. Sepanjang hari terutama 2 hari pertama seluruh stasiun televisi antri mewawancarainya. Hal ini terjadi karena identitasnya yang eksklusif. Dia adalah anak hasil perkawinan campuran antara orang yang berkebangsaan Prancis (Ayah) dan kebangsaan Indonesia (Ibu). Perempuan yang memiliki nama lengkap Manohara Odelia Pinot ini memiliki wajah yang cantik nan jelita disertai denga sikapnya yang sedikit lugu menambah cepatnya aliran simpati kepadanya. Sebelum kawin dia berprofesi sebagai model yang, menurut agen model yang menanganinya saat itu, memiliki harapan yang cemerlang. Manohara sendiri berasal dari keluarga bangsawan Bugis.

Prospeknya di dunia model harus ditinggalkan secara sepihak karena harus melaksnakan pernikahan dengan seorang pangeran, Muhammad Fakhry Petra, putra raja kerajaan Kelantan, Malaysia, pada 26 Agustus 2008.

Dia melaksanakan perkawinan di usia yang sangat muda, 17 tahun, kabarnya terpaksa karena mereka telah melakukan hubungan suami isteri. Sebagai orang Islam dan sesama bangsa Melayu, perbuatan itu adalah aib – apalagi dilakukan oleh anak raja yang sangat terhormat , maka sebelum aib itu terbaca oleh publik keduanya harus segera dinikahkan secara resmi.

Pernikahan yang dilaksanakan di Negeri Kelantan itu Manohara dinikahkan oleh Wali Hakim di depan penghulu disana tentunya yang dihadiri seluruh keluarga dan kerabat kedua belah pihak. Ayah Manohara sendiri saat itu berada di Amerika. Tidak jelas apakah dia mengetahui pernikahan itu atau tidak. Lebih jauh lagi apakah Manohara mendapat ijin?, jika Manohara tidak memiliki ijin resmi dari Ayahnya maka perkawinan itu dapat dimohon pembatalan oleh keluarga, demikian UU Perkawinan Indonesia mengaturnya.

Persoalan lain adalah Manohara saat itu memiliki dwi kewarganegaraan yakni kewarganegaan Amerika dan kewarganegaraan Indonesia. Dalam UU Kewarganegaraan Indonesia seseorang yang belum berumur 18 tahun dari hasil perkawinan campuran maka dia adalah warganegara Indonesia (asas kelahiran/Ius Solli) (baca pasal 4 s.d. ps 5 UU No 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan) Manohara sendiri lahir di Indonesia maka Undang-undang menempatkan status kewarganegaraannya sebagai warga negara Indonesia. Sementara dia lahir dari Ayah yang berdarah Prancis tapi berkewarganegaran Amerika, negara ini menggunakan asas ius sanguinis (keturunan) maka otomatis juga Manohara berkewarganegaraan Amerika. Jadi dia memiliki kewarganegaraan ganda (dwi kewarganegraan) bahkan belakangan setelah kawin menjadi 3 kewarganegraaan sekaligus.

Jika seseorang melakukan perkawinan dengan warganegara lain maka status kewarganegaraannyapun mengikuti kewarganegaraan suaminya tetapi setelah yang bersangkutan melaksanakan hak opsinya, apakah akan memilih warganegara Indonesia atau mengikuti suaminya (baca pasal 58 UU No 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan).

Dalam kasus Manohara kita tidak mengetahui informasi akan legalitas kewarganegaraanya maupun perkawinannya, karena kita lebih tertarik mendengar kasus penganiayaan atas dirinya oleh suaminya sendiri selama perkawinan.

Menurut Manohara selama perkawinan tidak pernah mendapat kebahagiaan, selama perkawinannya yang 2.5 tahun tersebut Manohara hanya dijadikan mainan oleh suaminya, bahkan disiksa dengan disilet, disetrika, di sundut rokok dan sebagainya. Tentu saja kasus ini menjadi perhatian luas dari seluruh masyarakat. Kasus ini menjadi kasus kemanusiaan (pelanggaran hak asasi manusia) bukan sekedar kasus rumah tangga. Bahkan apabila tidak dikelola dengan baik bisa-bisa menjadi persoalan antar bangsa apalagi disaat yang bersamaan persoalan pulau Ambalat sedang menjadi perhatian publik yang tidak kalah menariknya. Sebagaimana kita ketahuai hari hari terakhir ini kapal perang Malaysia sering memasuki wilayah kedaulatan RI yang menyebabkan kemarahan bangsa Indonesia. Belum lagi persoalan TKI yang tidak henti2nya bermasalah. Semuanya menjadi bahaya jika konflik tidak dikelola secara benar.

Apabila Manohara memiliki bukti-bukti kuat atas penyiksaan dirinya, maka bisa dipastikan hal ini akan menjadi persoalan yang akan menyedot perhatian publik baik di Indonesia maupun di Malaysia. Sebab kasusnya dilakukan oleh anak seorang Raja yang sangat berkuasa di negerinya.

Lalu Pengadilan manakah yang akan mengadilinya?

Dalam hukum Indonesia, suatu kasus hanya dapat diadili di tempat kasus itu terjadi (locus delicti), artinya Manohara harus mengajukan tuntutan ke pengadilan Malaysia. Persoalannya adalah apakah Pengadilan Malaysia bisa dipercaya? Mengingat Fahry adalah anak Raja, sementara Manohara hanya seorang selebritis.

Karena itu kemungkinan yang terjadi adalah kasus ini harus dibawa ke Mahkamah Internasional di Den Hag atas tuduhan pelanggaran terhadap hak asasi manusia.

Hal lain yang juga mendapat perhatian kita adalah, adanya kecurigaan terhadap Kedubes RI di Malaysia tidak serius menangani kasus ini, sebab dari penuturan Manohara sudah sering sekali dia mencoba mengadukan masalahnya tetapi respon Kedubes dianggap tidak serius. Artinya bahwa pihak Kedubes jelas-jelas tidak memiliki naluri kenegaraan dan semangat untk melindungi warganegaranya yang sedang tertimpa musibbah. Ini sangat bertentangan dengan tujuan dari Negara itu sendiri yang memiliki kewajiban melindungi setiap warganegaranya dimanapun berada dan dalam keadaan apapun juga.

Kita mengetahui Manohara bisa melepaskan dirinya dari sekapan suaminya setelah ia berada di Singapura bersama keluarga besar Kerajaan. Dia ditolong oleh Polisi Singapura, berkat kerjasama Deplu Indonesia/Kedubes Indonesia di Singapura, Kedutaan Besar Amerika, setelah Mano berteriak-teriak di dalam lift sambil memencet alarm di sebuah hotel di Singapura tempat Raja dan keluarga menginap selama menjalankan pengobatan jantung. Polisi Singapura dan Polisi Amerika (FBI) segera datang kurang lebih 20 menit setelah ditelpon oleh Ibunya Manohara yang saat itu ada di ruang lobby hotel. Drama pembebasan Manoharapun berlangsung secara professional. Amerika bisa menolong karena Manohara juga berstatus sebagai warganegara Amerika.

Sekarang kita masih menunggu Manohara memberikan bukti atas penganiayaannya berupa visum.


Friday, 22 May 2009

Visi 3 Calon Presiden

Tanggal 8 Juli 2009, Insya Allah bangsa Indonesia akan memilih Presiden baru yang ke 7, setelah (Sukarno, Suharto, Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati dan Soesilo Bambang Yudooyono [SBY]) untuk 5 tahun ke depan.

Ada 3 pasangan yang akan bertarung, yakni Yusuf Kalla-Wiranto, SBY-Boediono dan Megawati Sukarno Putri-Prabowo Subianto. Ketiga pasangan ini diperkirakan akan bersaing ketat, karena masing-masing memiliki kekuatan yang tidak bisa dipandang remeh. Dari hasil-hasil poling kita ketahui pasangan SBY/Boediono masih menduduki tempat tertinggi dibanding kedua rivalnya. Akan tetapi JK-Wiranto akhir-akhir ini, yang semula sangat tidak diunggulkan, menurut hasil polling terbaru secara mengejutkan menyusul ke dua rivalnya bahkan tim suksesnya yakin akan kemenangannya.

Salah satu stasiun televisi, TVONE, bekerjasama dengan Kadin, melakukan acara "Presiden Pilihan" sebuah acara yang didisain untuk mendiskusikan visi/misi para Capres. Secara berturut-turut selama 3 hari ke tiga Capres telah menyampaikan visinya di depan anggota KADIN. Saya kira dari sisi komiten dan tujuan ketiganya hampir sama, yakni mengusung ekonomi kerakyatan dan bisa menerima sistem pasar bebas dengan proteksi yang ketat untuk rakyat. Akan tetapi dari segi substansi dan cara penyampaian yang paling mengecewakan saya pribadi adalah Megawati. Hampir seluruh pertanyaan KADIN tidak bisa dijawab secara baik.

Sementara SBY dan JK tampil meyakinkan dengan bobot intelektual yang sejajar akan tetapi dengan still yang berbeda. SBY lebih bernuansa akademis, dia mengesankan seorang dosen yang sedang memberi kuliah di depan mahasiswanya, sedangkan JK lebih bergaya kerakyatan dan populis, lebih menggambarkan kepemimpinan yang partisipatif. Artinya bahwa SBY dan JK adalah 2 calon Presiden yang paling pantas untuk menang, karena mereka telah berhasil meyakinkan rakyat akan visinya.

Seorang pemimpin apalagi Presiden wajib memiliki kemampuan untuk membahasakan gagasan-gagasannya, bahkan menurut para ahli justeru kemampuan ini yang lebih penting daripada intelektualnya. Ini pernah terjadi pada salah seorang Presiden Amerika (maaf saya lupa namanya), sang Presiden AS ini secara intelektual biasa-biasa saja tetapi berhasil membangun Amerika. Keberhasilannya tersebut bukan karena kecerdasannya tetapi karena komunikasinya yang baik.

BANGSAKU HARUS CERDAS MAKA PEMIMPINKU HARUS LEBIH CERDAS!

Thursday, 21 May 2009

MIGRASI TV ANALOG KE DIGITAL

Tanggal 20 Mei kemarin kita menyaksikan melalui TV (SCTV) Presiden SBY meresmikan Peralihan TV Analog ke TV Digital. Ini menunjukkan bahwa bangsa Indonesia telah menaiki satu tangga lagi menuju Hight Technology semakin berbobot. Bahkan Negara super teknologi, seperti Amerika, baru beberapa bulan yang lalu (Pebruari 2009) melakukan hal yang sama, kita hanya terlambat dalam hitungan bulan. Menurut literaturnya, TV Digital(DTV) bisa untuk menerima dan mengirim suara dan gambar bergerak dengan cara digital, atau dengan kata lain, memungkinkan pemirsanya berinteraksi dengan saluran TV tersebut.

TV dikembangkan menggunakan sinyal digital yaitu rangkaian 0 dan 1 yang biasa disebut DTV atau Digital Television. Semua hal yang berhubungan dengan DTV menggunakan system digital, yaitu transmisi digital, camera digital dan receiver digital. Mungkin kita sudah sering mendengar tentang TV Satelit dan TV Kabel digital, tetapi sebenarnya kedua TV tersebut tidak termasuk TV Digital karena kedua TV ini masih menggunakan sinyal analog yang diubah menjadi sinyal digital untuk ditransmisikan kemudian mengubahnya kembali menjadi sinyal analog agar bisa dilihat oleh pemirsa.

Karena metode broadcastnya menggunakan sistem digital (pengirimannya memakai kode biner) maka diklaim mampu memberikan gambar yang lebih tajam dan suara yang lebih jernih. Metode ini mampu mengirim gambar mulai 1280 × 720 piksel/progressive scan (disingkat 720p) hingga 1920 × 1080 piksel/interlaced mode (disingkat 1080i). Siaran ini ditampilkan dalam rasio 16:9 (Mode Layar Lebar).

Satu channel TV bisa memberikan beragam informasi secara bersamaan. Bahkan konten non-video seperti data, juga bisa dikirim dan diterima secara bersamaan oleh pemirsa. Hal ini membuka peluang jaringan internet lewat TV. Bandwidth yang disediakan mampu mencapai 2.5 MB/s (bandingkan dengan ADSL Speedy yang “cuman” 384Kbps).
Tentu TV Digital menjadi lebih menarik daripada TV Analog.

Sedangkan TV Analog mempunyai metode yang berbeda-beda, tergantung negara yang menggunakannya. Untuk Indonesia, metode yang digunakan adalah PAL.

Untuk beralih ke digital, ada 2 alternatif yang harus kita lakukan; 1). Mengganti TV yang ada sekarang dan menggantinya dengan TV digital, 2).Tidak perlu mengganti TV, yang diperlukan hanya membei alat bantu (decoder) berupa Set Top Box (STB).
Pemasangan STB sangat mudah, yaitu kabel antenna yang semula langsung ke TV dilepas, dimasukkan ke STB ini kemudian output STB berupa Audio dan Video (A/V) tinggal dimasukkan ke Video input TV kita. Harganya diperkirakan berkisar antara Rp.200.000 - Rp.500.000 dan harga ini tentu suatu saat akan semakin murah karena produksi yang semakin banyak.

Thursday, 14 May 2009

Hasil Pemilu 2009

Mataram, 14 Mei 2009, Akhirnya KPU menetapkan hasil Pemilu 2009 dengan hasil yang sangat mengejutkan. Partai Demokrat yang pada Pemilu 2004 hanya memperoleh 55 kursi pada Pemilu 2009 ini meraih jumlah kursi tertinggi, yakni 150 kursi, sementara Golkar yang dulu menjadi Partai pemenang harus rela duduk pada posisi kedua. Pada Pemilu 2004 Golkar meraih kursi 128 kini harus kehilangan 21 kursi . Demikian juga dengan PDIP yang pada Pemilu sebelumnya memperoleh 109 kursi kini hanya mendapat 95 kursi atau kehilangankursi sebanyak 14.

Satu-satunya partai di luar Demokrat yang mengalami kenaikan signifikan adalah PKS, yang pada Pemilu sebelumnya mempereleh 45 kursi, sekarang mendapatkan 57 kursi. Beberapa Parpol lama terpental, yaitu PBR, PDS, PBB, dan beberapa parpol kecil lainnya. Sedangkan ada 2 Partai baru yang berhasil lulus Parliamentary Threshold adalah Gerindra (Prabowo) memperoleh 26 kursi dan Hanura (Wiranto) mendapat 18 kursi.

Perolehan tersebut divalidasi setelah KPU mengubah perolehan kursi tiap Parpol pada tanggal 14 Mei 2009. Akibat perubahan ini seluruh partai mengalami perubahan perolehan kursi. Ada partai yang mengalami penurunan tapi ada juga yang mengalami kenaikan. Dari perubahan tersebut, tercatat Partai Hanura, Partai Demokrat, PDIP, PAN, dan PKB mengalami kenaikan jumlah kursi. Sedangkan PKS, PPP, Golkar, dan Gerindra mengalami penurunan.

Pengumuman perubahan perolehan kursi tersebut dilakukan KPU di hadapan saksi para parpol di Kantor KPU, Jl Imam Bonjol, Jakarta Pusat, Kamis (14/5/2009) dini hari.

Berikut perolehan kursi tiap parpol berdasarkan hasil validasi KPU:

  1. Partai Demokrat 150 (sebelumnya 148)
  2. Partai Golkar 107 (sebelumnya 108)
  3. PDIP 95 (sebelumnya 93)
  4. PKS 57 (sebelumnya 59)
  5. PAN 43 (sebelumnya 42)
  6. PPP 37 (sebelumnya 39)
  7. PKB 27 (sebelumnya 26)
  8. Gerindra 26 (sebelumnya 30)
  9. Hanura 18 (sebelumnya 15)

Menurut anggota KPU I Gusti Putu Artha, kesalahan angka tersebut disebabkan human error ketika menampilkan data saat pengumuman 9 Mei lalu. Dalam waktu dekat, tak lebih dari 3 hari, KPU akan menetapkan perolehan kursi tersebut sehingga memiliki kekuatan hukum tetap.

Perbandingan Perolehan Kursi Pemilu 2004 dan Pemilu 2009 

Partai

2004

2009

Naik/Turun (+/-)

1.    Demokrat

55

150

95

2.    Golkar

128

107

-21

3.    PDIP

109

95

-14

4.    PKS

45

57

12

5.    PAN

53

43

-10

6.    PPP

58

37

-21

7.    PKB

52

27

-25

8.    Gerindra

-

26

-

9.    Hanura

-

18

-

J u m l a h

550

560

-