Thursday, 26 May 2011

Sel Punca, Rahasia Panjang Umur Orang Yahudi?


Para ilmuwan akan mempelajari sel punca orang Yahudi yang memiliki garis keturunan Eropa Timur. Upaya itu dilakukan untuk mengungkap rahasia panjang umur mereka yang kebanyakan berusia lebih dari 100 tahun, meski mereka mengonsumsi alkohol, makanan berlemak, dan merokok.

Untuk mencapai tujuan tersebut, para ilmuwan di Cornell Medical College, New York, Amerika Serikat, akan mempelajari sel punca selusin Yahudi Ashkenazi yang pernah mengalami penganiayaan berat, yang berasal dari Rusia. Riset sel punca akan dilakukan pada sel jantung, paru-paru, hati, dan sel lainnya.

Dr. Todd Evans, ilmuwan yang memimpin studi itu mengakui kekagumannya terhadap "sel panjang umur" yang bisa mengusir serangan jantung, kanker, dan penyakit yang mengancam jiwa lainnya. Padahal, "Mereka panjang umur bukan karena melakoni gaya hidup sehat," katanya. Ia pun yakin kekebalan itu berkaitan dengan sel punca.

Dr. Evans bersama timnya akan mengekstrak sel punca dari darah orang Yahudi yang sudah lanjut usia. Kemudian mereka akan mengubahnya menjadi sel organ vital yang akan memanfaatkan sel sehat tersebut. Sel itu nantinya akan menjalani stres tes yang dilanjutkan dengan pengamatan secara teliti. Hasil tes ini masih memerlukan waktu cukup lama untuk dikaji dengan hati-hati hingga sebuah kesimpulan dicapai. Meski begitu, studi ini bisa menjadi awal untuk mengungkap rahasia panjang umur. (Sumber: Daily Mail)
[Komentari ''Sel Punca, Rahasia Panjang Umur Orang Yahudi?'']

Tuesday, 24 May 2011

Episode Baru


by: Lia untuk kenangan Ulang Tahunku

Episode baru itu di mulai saat hari di mana aku di lahirkan, dunia ini layaknya taman belajar, ada Harapan, ada Ujian, ada Kenyataan, ada Kegagalan…..Silih berganti mewarnai perjalanan yang hanya Alloh yang maha pencipta mengetahui di mana akhir episode hidup ini.

Alloh mengatur ciptaannya dengan keseimbangan, Alloh maha mengetahui dan luas ilmunya,
Kejadian yang baik adalah berkah dari perbuatan yang baik,
Kejadian buruk adalah hikmah menuju perbuatan yang lebih baik,
Tidak ada yang Luput dari Pandangan Alloh YANG MAHA AGUNG

Mata adalah indra yang berharga, akan tetapi mata fisik tidak memiliki kekusaan untuk mengirimkan pesan kejujuran pada hati, atas apa yang ia lihat di hadapannya, ia terhalang hawa nafsu yang di perintahkan setan untuk menghalangi manusia kepada jalan kebenaran, Kisah itu terlukis di atas kertas putih berjudul “PENYESALAN”, mata mengalirkan air mata untuk menunjukan bukti pada dunia bahwa apa yang ia lihat adalah sebuah kebenaran yang tergantikan dengan sebuah kesalahan…….ya aku hanya memiliki air mata…………!!!!!!!

Penyasalan adalah lentera baru, yang mengantarkan kau meniti tangga demi tangga kehidupan, peliharalah cahaya redup lentera itu, atas Ijin Alloh pada suatu masa ia akan menerangi mu dengan cahaya yang lebih terang menuju kebenaran, di sana kau akan melihat dirimu sesuai dengan pancaran hatimu.

Masa lalu adalah pijakan untuk melangkah ke masa depan, Alloh yang maha pengasih menciptakan mata fisik dan juga meletakkan mata hati untuk hambanya, Alloh membuka mata hati hambanya yang ia kehendaki, dan Alloh juga mampu menutup mata hati hamba yang ia kehendaki, ketahuilah jika Alloh telah membukanya tidak ada yang dapat menutupnya, dan jika Alloh menutupnya tidak ada kekuasaan apapun yang dapat membukanya.

Ya Alloh sungguh Engkau Maha Pengasih dan Penyayang ,
Engkaulah sebaik-baiknya Penjaga,
engkau perintahkan Malaikat menjaga anak cucu adam atas kehendakmu agar kami Bersyukur dan Sujud di hadapan Kebesaranmu yang Maha Suci,
Engkau berikan Ilmu Pengetahuan dari sisimu untuk bekal perjalanan kami,
Ya Alloh hamba memohon Anugrahkan hamba tentang Ilmu Hati
bukalah mata hati hamba untuk membimbing hamba kembali kepadamu,
walaupun dengan sedikit Amal dari seluruh kesalahan yang hamba lakukan di dunia ini

Tuesday, 17 May 2011

Orde Reformasi Hanya Bagus di Sektor Hukum

Di bidang politik, ekonomi, sosial dan keamanan, Orde Baru dinilai lebih baik

VIVAnews - Perbaikan penanganan masalah hukum yang menjadi agenda utama era Reformasi dianggap belum memenuhi tujuannya. Padahal hal inilah yang menjadi tuntutan masyarakat saat penggulingan pemerintahan Presiden Soeharto pada tahun 1998 karena menganggap pemerintahannya penuh dengan praktik korupsi.

Menurut survei yang dilakukan oleh IndoBarometer dengan tema "Evaluasi 13 Tahun Reformasi dan 18 Bulan Pemerintahan SBY - Boediono" menunjukkan kepuasan masyarakat pada penanganan hukum pada masa Reformasi hanya unggul tipis dari masa Orde Baru yakni 7 persen. Survei menemukan, 34, 3 persen memilih penegakan hukum di era Reformasi memuaskan, dan 27,6 persen memilih Orde Baru yang lebih memuaskan.

"Mayoritas publik menyatakan bahwa Orde Baru lebih baik dalam bidang politik, ekonomi, sosial dan keamanan. Namun untuk kondisi hukum yang lebih baik adalah di orde Reformasi," ujar Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari di Hotel Atlet Century, Jakarta, Minggu 15 Mei 2011.

Lebih lanjut Qodari menjelaskan, tipisnya perbedaan ini karena masyarakat masih kecewa dengan kinerja pemberantasan hukum saat ini. "Pemerintah hanya memfokuskan penanganan pemberantasan korupsi dengan pembentukan lembaga antikorupsi tetapi tidak pada implementasinya," ucapnya.

Hal ini terbukti dengan data survei yang menunjukan perbedaan mencolok pada aspek implementasinya. 53,5 Persen masyarakat mengatakan pengusutan dan pengadilan terhadap berbagai korupsi belum terpenuhi berbanding 22,3 persen dengan yang menganggap telah terpenuhi. 57,3 Persen masyarakat mengangap penegakan keadilan hukum belum terpenuhi berbanding 17,7 persen.

Serta 53,8 persen masyarakat menganggap pengusutan dan pengadilan kasus korupsi oleh Soeharto dan pengikutnya belum terpenuhi berbanding dengan 7,8 persen yang menjawab belum terpenuhi.

Survei ini dilakukan atas 1.200 responden yang tersebar di 33 Provinsi antara 25 April sampai 4 Mei 2011. Tingkat kepercayaan survei ini mencapai 95 persen dan margin of error sebesar +/- 3,0 persen. (eh)

Survei: Publik Rindukan Masa Soeharto

Hanya 22,8 persen responden survei Indo Barometer nyatakan Orde Reformasi lebih baik

VIVAnews - Masyarakat Indonesia saat ini mendambakan kondisi seperti era Orde Baru, di mana pemerintahan dipegang oleh Presiden Soeharto. Itulah kesimpulan survei Indo Barometer atas 1.200 responden di 33 provinsi di Indonesia pada tanggal 25 April sampai 4 Mei 2011.

Indo Barometer menemukan, 40,9 persen memilih kondisi pada saat masa Orde Baru. "Hanya 22,8 persen yang memilih kondisi saat ini (di masa Reformasi)," ujar Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari dalam jumpa pers di Hotel Atlet Century, Jakarta, Minggu 15 Mei 2011.

Lebih lanjut Qodari menjelaskan, masyarakat yang tinggal di pedesaan maupun perkotaan sama-sama menyatakan Orde Baru lebih baik. "Namun secara persentase publik perkotaan menyatakan Orde Baru lebih baik, lebih tinggi, yakni 47,7 persen dibandingkan pedesaan yakni 35,7 persen," katanya.

Hal menarik, hampir responden dari semua pulau mengganggap Orde Baru lebih baik dari pada Era Reformasi kecuali Pulau Sulawesi. Publik di Pulau Jawa yang memberikan tanggapan paling banyak dalam memilih masa Orde Baru yakni 48 persen.

"Di Sulawesi pemilih era reformasi lebih banyak yakni 41,1 persen," tuturnya.

Ekonom Faisal Basri yang menjadi penanggap hasil survei menyatakan, perubahan pembangunan perekonomian pada era Reformasi justru lebih dirasakan penduduk di perkotaan dari pada di pedesaan. Masyarakat pedesaan seharusnya lebih merasa Orde Baru adalah era terbaik untuk mereka.

Menurut Pengamat Ekonomi Universitas Indonesia Faisal Basri menyatakan reformasi hanya memperhatikan daerah perkotaan dari pada pedesaan sehingga penurunan tingkat kemiskinan jauh lebih lambat di daerah pedesaan.

"Di desa banyak orang yang merasakan orde Reformasi tidak lebih baik dari pada orang kota. Ini wajar karena 2/3 orang miskin ada di desa," ujarnya.

Lambatnya perbaikan tingkat kemiskinan di daerah pedesaan ini, menurutnya, disebabkan oleh era reformasi tidak mendukung sektor pertanian yang merupakan tulang punggung ekonomi rakyat desa. Pemerintah dalam era reformasi tidak membantu petani dalam menjaga harga hasil pertanian dan juga infrastrukturnya. "Orde Reformasi banyak mementingkan pembangunan jalan tol dan bandara," katanya.

Hal ini terbukti dengan anjloknya harga beras dalam negeri karena fungsi Bulog yang semakin minim, akibatnya mekanisme pasar semakin jalan dan produk-produk impor membanjiri konsumen. Faktor lain ialah tidak adanya pembangunan bendungan baru dan sistim irigasi yang telah banyak rusak. "Hal inilah yang membuat petani tidak bisa bersaing," katanya. (eh)
• VIVAnews

Ini Krisis Lembaga Demokrasi, Tak Hanya SBY

Survei IndoBarometer mencerminkan ketidakpercayaan rakyat pada demokrasi


Kepala Divisi Penelitian Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) Kurniawan Zein berpendapat hasil survei IndoBarometer merupakan lonceng krisis kepercayaan masyarakat pada lembaga demokrasi. Rakyat tidak hanya kecewa dengan kinerja pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono melainkan terhadap tiga institusi demokrasi yakni eksekutif, legislatif dan yudikatif.

Trias politika yang seharusnya menjadi sistem saling kontrol terhadap satu institusi dengan institusi lainnya, kata Kurniawan, tidak berjalan maksimal. Justru, masing-masing institusi seringkali menimbulkan rasa kecewa rakyat.

Dia mencontohkan, rencana pemerintah membuat regulasi narkoba terkait keringanan penggunaan narkoba di bawah 1 gram. Dalam pasal 103 UU itu, memungkinkan pengguna narkotika dengan barang bukti kurang dari satu gram, direhabilitasi, bukan dipenjara. "Regulasi itu sangat kontroversial," katanya saat dihubungi VIVAnews, Senin 16 Mei 2011.

Tingkah laku elite politik di lembaga legislatif, kata Kurniawan seringkali menyakiti hati rakyat. Rencana pembangunan gedung baru DPR dan berbagai kunjungan anggota ke luar negeri yang dinilai tidak berkaitan dengan fungsi dan tugasnya, membuat rakyat kecewa dengan lembaga pembuat undang-undang itu.

"Perilaku politik anggota dewan tidak menunjukkan empati terhadap rakyat. Tidak ada sense of crisis," ucapnya.

Sementara, lembaga hukum yang seharusnya menjadi jangkar bagi terciptanya keadilan di tengah masyarakat, menurutnya belum juga berhasil memainkan peran. Banyak kasus yang menyita perhatian publik, seringkali berakhir antiklimaks dan tidak memberikan rasa keadilan yang seharusnya.

"Bagaimana kita melihat kasus penanggulangan Gayus dan sebagainya. Yudikatif di sini tidak hanya aspek kehakiman saja, tapi sistem hukum kita secara menyeluruh," katanya.

Kurniawan menegaskan, jika kekecewaan rakyat terhadap tiga lembaga trias politika itu tidak segera dijawab dengan perbaikan, maka akan segera mengancam keberlangsungan sistem demokrasi di Indonesia.

Mau tahu hasil survei IndoBarometer itu? Baca: