KHUTBAH INI DISAMPAIKAN PADA 9 ZULHIJJAH TAHUN 10 HIJRAH DI LEMBAH URANAH, GUNUNG ‘ARAFAH
Ary@sosman
Wahai manusia dengarlah baik-baik apa yang hendak ku katakan !!!
Aku tidak mengetahui apakah aku dapat bertemu lagi dengan kamu semua selepas tahun ini. Oleh itu dengarlah dengan teliti kata-kataku ini dan sampaikanlah ia kepada orang-orang yang tidak dapat hadir di sini pada hari ini.
Wahai manusia, sepertimana kamu menganggap bulan ini dan kota ini sebagai suci maka anggaplah jiwa dan harta setiap orang Muslim sebagai amanah suci. Kembalikan harta yang diamanahkan kepada kamu kepada pemiliknya yang berhak.
Janganlah kamu sakiti sesiapapun agar orang lain tidak menyakiti kamu pula. Ingatlah bahawa sesungguhnya kamu akan menemui Tuhan kamu dan Dia pasti akan membuat perhitungan atas segala amalan kamu. Allah telah mengharamkan riba’, oleh itu segala urusan yang melibatkan riba’ hendaklah dibatalkan mulai sekarang.
Berwaspadalah terhadap syaitan demi keselamatan agama kamu. Dia telah berputus asa untuk menyesatkan kamu dalam perkara-perkara besar maka berjaga-jagalah supaya kamu tidak mengikutinya dalam perkara-perkara kecil.
Wahai manusia, sebagaimana kamu mempunyai hak atas para isteri kamu, mereka juga mempunyai atas kamu. Sekiranya mereka menyempurnakan mereka ke atas kamu maka mereka juga berhak untuk diberi makan dan pakaian dalam suasana kasih sayang.
Layanilah wanita-wanita kamu dengan baik dan berlemah lembutlah terhadap mereka kerana sesungguhnya mereka adalah teman dan pembantu kamu yang setia. Dan hak kamu ke atas mereka ialah mereka sama sekali tidak boleh memasukkan orang yang kamu tidak sukai ke dalam rumah kamu dan dilarang melakukan zina.
Wahai manusia, dengarlah bersungguh-sungguh kata-kataku ini. Sembahlah Allah, dirikanlah solat lima kali sehari, berpuasalah di Bulan Ramadhan, tunaikanlah zakat dan harta kekayaan kamu dan kerjakanlah ibadah haji sekiranya mampu.
Ketahuilah bahawa setiap Muslim adalah saudara kepada Muslim yang lain. Kamu semua adalah sama; tidak ada seorangpun yang lebih mulia dari yang lainnya kecuali dalam taqwa dan amal soleh.
Ingatlah bahawa kamu akan mengadap Allah pada suatu hari untuk dipertanggungjawabkan atas segala apa yang telah kamu lakukan. Oleh itu, awasilah tindak-tanduk kamu agar jangan sekali-kali kamu terkeluar dari landasan kebenaran selepas ketiadaanku.
Wahai manusia, tidak ada lagi Nabi atau Rasul yang akan datang selepasku dan tidak akan lahir agama baru. Oleh itu wahai manusia, nilailah dengan betul dan fahamilah kata-kataku yang telah disampaikan kepada kamu.
Sesungguhnya aku tinggalkan kepada kamu dua perkara yang sekiranya kamu berpegang teguh dan mengikuti kedua-duanya nescaya kamu tidak akan tersesat selama-lamanya. Itulah Al-Quran dan Sunnahku.
Hendaklah orang-orang yang mendengar ucapanku ini menyampaikannya pula kepada orang lain dan hendaklah orang yang lain itu menyampaikannya pula kepada orang lain dan begitu seterusnya. Semoga orang yang terakhir yang menerimanya lebih memahami kata-kataku ini dari mereka yang mendengar terus dariku.
Saksikanlah Ya Allah, bahawasanya aku telah sampaikan risalah-Mu kepada hamba-hamba-Mu.
Berbagi ilmu, berbagi informasi, berbagi pengalaman untuk sebuah kematangan intelektual Indonesia Raya
Tuesday, 21 July 2009
Sunday, 12 July 2009
Kemenangan SBY Karena Faktor “Cinta”

Oleh : Arya Sosman
Soesilo Bambang Yudoyono, atau lebih dikenal dengan nama SBY, sosok manusia Indonesia yang sangat fenomenal. Awalnya kemenangan yang diraih pada Pilpres 2004, dengan mengalahkan Amien Rais, Megawati, Wiranto dan Hamzah Haz, dicurigai sebagai akibat dirinya “dizalimi” oleh Presiden RI saat itu, Megawati Soekarno Putri. Penzaliman itu mengakibatkan tumbuhnya rasa simpati pada SBY.
Betul rasa simpati itu benar-benar mengalir dari rakyat saat itu – tapi pertanyaannya mengapa perasaan simpati itu begitu kuat bagi seorang SBY? – bukankah saat itu ia belum dipandang sebagai tokoh yang dapat disejajarkan dengan tokoh-tokoh besar Indonesia lainnya, seperti Amien Rais, Gus Dur, Nurchalis Majid, Habibie, Sri Sultan, Megawati dan Wiranto, melainkan ia hanya dikenal sebagai Menteri dan atau prajurit yang pintar dan baik. SBY juga tidak memiliki modal sosial politik karena tidak punya massa, tidak punya media masa, tidak punya partai, tidak memimpin organisasi besar yang kesemuanya dapat dijadikan sebagai alat untuk pencitraan. SBY juga bukan keturunan bangsawan, bukan dari anak Raja zaman dahulu, bukan hartawan, bukan pengusaha – dia dari orang-orang kebanyakan.
Bagi saya rasa simpati itu hanya sekedar penunjang dari berbagai faktor kemenangan SBY:
1. SBY adalah tokoh yang dianggap merefresentasikan antara “tentara – intelektual dan sedikit symbol Orde Baru ”. Saat itu di kalangan rakyat masih kuat keinginan untuk kembali ke Orde Baru akibat reformasi yang dianggap kebablasan (jawa=kelewatan), tetapi karena mengembalikan Orde Baru merupakan sesuatu yang mustahil maka SBY dipandang sebagai jalan tengahnya.
2. Sebagai tentara, dia pandang mampu mengatasi keamanan. (bagi rakyat kecil keamanan lebih diartikan sebagai bebasnya negara ini atas demonstrasi-demonstrasi, sedangkan keamanan yang dimaksud bagi kaum elit adalah ancaman disintegrasi bangsa (Aceh, Papua, Maluku saat itu meradang ingin merdeka) – Rakyat percaya urusan keamanan hanya militer ahlinya.
3. Sebagai intelektual, SBY bukan sekedar prajurit yang hanya mampu berperang namun ia adalah seorang pemikir yang memiliki gagasan-gagasan cemerlang untuk kemajuan bangsa dan Negara. Gagasan itu telah ditunjukkan dalam kecemerlangannya membuat konsep reformasi ABRI. Bahkan ditengah kesibukannya ia berhasil mendapatkan gelar Doktor di IPB, sebuah gelar tertinggi bagi orang-orang berilmu.
Waktu itu ada perasaan jenuh dipimpin oleh tentara tetapi persoalannya para tokoh sipil dianggap gagal menjadikan Negara ini aman (liat saja sejak Habibi, Gus Dur dan Mega, tiada hari tanpa demonstrasi). Disatu pihak dibutukan figure intelektual. Figur ini di kalangan tentara dianggap langka.
Bagi rakyat SBY adalah perpaduan dari semuanya.
Sekarang, pada Pilpres 2009, dia berhasil mengalahkan pesaingnya secara telak. Dia berhasil menjadi yang terkuat, walaupun para pesaingnya telah menggunakan berbagai cara melumpuhkan pengaruhnya. Upaya pelumpuhan ini secara nyata dilakukan oleh Megawati melalui serangan BLT, misalnya, baik sejak sebelum masa pendaftaran Pilpres sampai dengan saat-saat terakhir kampanye. Tetapi seluruh upaya itu nampak sia-sia, justeru Mega dituduh manusia pendendam, tidak cerdas. SBY tetap yang terkuat.
Para pengamat dan lawan politiknya berusaha mencari-cari alasan kemenangan SBY, namun bagi saya, alasan-alasan itu saya anggap lebih bersifat apologis bahkan memaksakan gambaran yang tidak sesungguhnya. Diantara alasan-alasan itu bahkan banyak yang bersifat “tuduhan”, misalnya adanya tuduhan SBY melakukan Penggiringan opini melalui survey, adanya operasi gelap (silent operation), kecurangan Daftar Pemilih Tetap (DPT), dana kampanye yang sangat besar, SBY Boediono didukung oleh Barat untuk mengamankan konsep neoliberalisme dan sebagainya.
Apakah seluruh tuduhan itu ada yang terbukti? – jawabannya TIDAK!
Saya berpendapat bahwa kemenangan SBY disebabkan oleh “kekuatan personalnya”, dia adalah tokoh yang dicintai rakyat. Sebagai tokoh yang dicintai maka akan menimbulkan efek terbalik bagi para pengeritiknya – terutama yang tidak konstruktif. Semakin dikritik ia semakin mendapatkan pembelaan, semakin dituding ia semakin dicintai, semakin dijatuhkan ia semakin dihormati, semakin dicemooh simpati rakyat semakin mengalir. Itulah fakta SBY, si manusia pilihan.
Wednesday, 8 July 2009
Menyaksikan Orang-orang Berkualitas Memang Menakjubkan
oleh: Aarya Sosman
Kurang lebih 3 jam tadi malam saya menyaksikan upacara pemakaman Michael Jackson yang mengagumkan itu. Ketika Mariah Cary tampil total membawa lagu hit Jackson sekitar tahun 70an, "I'll Be there" semua terdiam, syahdu, histeris dan tepuk tangan yang bergemuruh. Penampilan Mariah Cary hampir sempurna karena itu ia memukau. Suasana ini berlanjut ketika Stevie Wonder, penyanyi dunia tuna netra yang luar biasa itu menumpahkan segala emosinya melalui suara emasnya, "Never Dreamed You'd Leave in Summer" yang terkenal pada era 70an
"Ini merupakan momen yang kuharapkan tidak ingin kuhampiri, tetapi lebih dari apa yang dapat kusampaikan, aku menyadari bahwa Tuhan baik," kata Wonder. "Dan aku benar-benar mengetahui bahwa sejauh yang kita rasakan dan alami, kita memerlukan Michael bersama kita, Tuhan mungkin lebih memerlukannya," ujarnya.
Tidak adil rasanya dalam kesempatan ini untuk tidak menyebut Lionel Richie, Jenifer Hudson, serta penyanyi-penyanyi kelas dunia lainnya, mereka adalah orang-orang luar biasa yang turut mengumandangkan kepiluannya lewat lagu yang menyihir para pelayat dan para pemirsa seluruh dunia.
Proses penghormatan terakhir terhadap Jacko tidak lepas dari linangan air mata saat kakak Jacko, Jermaine, membawakan lagu favorit adiknya itu, "Smile" Setelah berjuang untuk tidak menangis dengan membawakan lagu itu, Jermaine dipeluk oleh beberapa saudaranya saat beranjak meninggalkan panggung.
Itu adalah sederetan orang-orang berkuaitas yang berkiprah di dunia musik. Menarik pula mereka-mereka yang telah memberikan sambutannya pada malam itu dengan kalimat-kalimat yang menyentuh dan cerdas menggugah setiap perasaan orang yang mendengarnya - mereka orang-orang jenius yang menghasilkan karya-karya mengagumkan dan fenomenal, itulah kalimat yang harus saya sampaikan.
Memang, orang-orang berkualitas selalu menjadi motivator, insfirator dan inventor dunia ini, mereka adalah manusia pilihan, pilihan Tuhan yang terus dikenang sepanjang dunia ini hidup. Mereka adalah para pengubah sejarah, menentukan putih hitamnya dunia. Belum pernah ada orang bodoh bisa mengubah dunia.
Karena itu sesungguhnya, jujur, dunia ini sejak lahirnya, adalah milik orang-orang berkualitas.
Selalu menakjubkan menyaksikan orang-orang berkualitas - Michail Jackson adalah salah satunya.
Selamat Jalan Jacko!
Kurang lebih 3 jam tadi malam saya menyaksikan upacara pemakaman Michael Jackson yang mengagumkan itu. Ketika Mariah Cary tampil total membawa lagu hit Jackson sekitar tahun 70an, "I'll Be there" semua terdiam, syahdu, histeris dan tepuk tangan yang bergemuruh. Penampilan Mariah Cary hampir sempurna karena itu ia memukau. Suasana ini berlanjut ketika Stevie Wonder, penyanyi dunia tuna netra yang luar biasa itu menumpahkan segala emosinya melalui suara emasnya, "Never Dreamed You'd Leave in Summer" yang terkenal pada era 70an
"Ini merupakan momen yang kuharapkan tidak ingin kuhampiri, tetapi lebih dari apa yang dapat kusampaikan, aku menyadari bahwa Tuhan baik," kata Wonder. "Dan aku benar-benar mengetahui bahwa sejauh yang kita rasakan dan alami, kita memerlukan Michael bersama kita, Tuhan mungkin lebih memerlukannya," ujarnya.
Tidak adil rasanya dalam kesempatan ini untuk tidak menyebut Lionel Richie, Jenifer Hudson, serta penyanyi-penyanyi kelas dunia lainnya, mereka adalah orang-orang luar biasa yang turut mengumandangkan kepiluannya lewat lagu yang menyihir para pelayat dan para pemirsa seluruh dunia.
Proses penghormatan terakhir terhadap Jacko tidak lepas dari linangan air mata saat kakak Jacko, Jermaine, membawakan lagu favorit adiknya itu, "Smile" Setelah berjuang untuk tidak menangis dengan membawakan lagu itu, Jermaine dipeluk oleh beberapa saudaranya saat beranjak meninggalkan panggung.
Itu adalah sederetan orang-orang berkuaitas yang berkiprah di dunia musik. Menarik pula mereka-mereka yang telah memberikan sambutannya pada malam itu dengan kalimat-kalimat yang menyentuh dan cerdas menggugah setiap perasaan orang yang mendengarnya - mereka orang-orang jenius yang menghasilkan karya-karya mengagumkan dan fenomenal, itulah kalimat yang harus saya sampaikan.
Memang, orang-orang berkualitas selalu menjadi motivator, insfirator dan inventor dunia ini, mereka adalah manusia pilihan, pilihan Tuhan yang terus dikenang sepanjang dunia ini hidup. Mereka adalah para pengubah sejarah, menentukan putih hitamnya dunia. Belum pernah ada orang bodoh bisa mengubah dunia.
Karena itu sesungguhnya, jujur, dunia ini sejak lahirnya, adalah milik orang-orang berkualitas.
Selalu menakjubkan menyaksikan orang-orang berkualitas - Michail Jackson adalah salah satunya.
Selamat Jalan Jacko!
Monday, 29 June 2009
Pendidikan Moral Orang Jepang
Oleh: Murni Ramli
(Mahasiswa Program Doktor Graduate School of Education and Human Development,Nagoya University, Jepang)
Artikel di 28 Juli 2008
Sebuah poster di kereta bawah tanah di Nagoya, Jepang mengilustrasikan ketidaksopanan sebagai penumpang kereta. Seorang siswa SMA digambarkan duduk dengan posisi kaki mengangkang sehingga mengambil tempat yang lebar, dan tas besarnya diletakkan di depan, menghalangi orang untuk berdiri bebas. Gambar lain tentang seorang gadis yang berbicara melalui telepon genggam dengan suara keras, sehingga mengganggu penumpang lain.
Tidak hanya poster, kendaraan umum di Jepang sangat terkenal dengan sarat peringatan dan ajakan untuk mematuhi norma-norma, misalnya larangan untuk menelepon, berbicara keras, dan beberapa tindakan yang mengganggu.
Ketika datang pertama kali ke Jepang, saya berdecak kagum dengan kerapihan, ketertiban dan kedisiplinan warga Jepang mengantri masuk ke dalam kereta. Tidak ada yang berebut, bahkan anak kecil pun berdiri sabar menunggu giliran. Dari mana kedisiplinan itu dibangun ? Menjawab pertanyaan ini tidaklah gampang jika analisa hanya didasarkan pada peraturan hukum, pun tidak bisa sekedar dilihat sebagai wacana sosial politik. Secara teoritis dan empirik, dapat dikatakan bahwa kedisiplinan itu erat kaitannya dengan pendidikan.
Bagaimana sekolah-sekolah di Jepang mengajarkan kedisiplinan dapat kita cermati melalui pendidikan moralnya. Norma dalam masyarakat Jepang sangat terkait dengan ajaran Shinto dan Budhha, tetapi menariknya kedua agama ini tidak diajarkan di sekolah dalam bentuk pelajaran wajib, seperti halnya pelajaran agama di Indonesia. Namun nilai-nilainya diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari di sekolah.
Pendidikan moral di dalam bahasa Jepang disebut ‘doutokukyouiku‘. Kata doutoku berarti moral dan kyouiku berarti pendidikan. Kata ‘doutoku‘ terdiri dari dua kata yaitu ‘dou‘ yang berarti jalan dan kata ‘toku‘ yang berarti virtue atau kebaikan. Penggunaan kata ‘dou‘ dalam terminologi Jepang banyak sekali, misalnya judou, kendou, akidou (olahraga tradisional Jepang), shodou (kaligrafi), sadou (tradisi minum teh) yang dalam pemahaman orang Jepang memerlukan ketekunan untuk mencapai taraf tertinggi. Demikian pula moral atau kebaikan, memerlukan ketekunan untuk menemukan ‘jalan’ mencapainya.
Karenanya, pendidikan moral di sekolah-sekolah di Jepang tidak diajarkan sebagai sebuah mata pelajaran khusus, tetapi diintegrasikan dalam semua mata pelajaran. Secara khusus wali kelas bertanggung jawab untuk mendiskusikan aturan kelas, aturan bermain bersama, atau hubungan kerjasama antaranggota kelas dalam 35 jam setiap tahun di SD dan SMP. Dalam pelajaran lain seperti seikatsuka atau pendidikan tentang kehidupan sehari-hari, siswa SD diajari tatacara menyeberang jalan, adab di dalam kereta, yang tidak saja berupa teori, tetapi guru juga mengajak mereka untuk bersama naik kereta dan mempraktekkannya. Wali kelas juga menyampaikan kasus pelanggaran, dan mengajak siswa untuk mendiskusikan pemecahannya. Pendidikan moral di SMA selanjutnya menjadi pendidikan kewarganegaraan. Pembekalan prinsip dasar hidup yang kuat di masa pendidikan dasar inilah yang membuat kedisiplinan dan keteraturan dalam masyarakat Jepang.
Ketika berbicara tentang sains, yang muncul di kepala kita adalah teori dan rumus yang harus dihafalkan. Demikian pula ketika kita mendengar istilah pendidikan sosial, maka imajinasi akan mengerucut pada sejumlah uraian panjang tentang konsep hubungan manusia dengan makhluk, dan saat kita berbicara tentang pendidikan agama, maka otomatis kita merujuk kepada hubungan manusia dengan Tuhannya.
Pola pemikiran yang seperti itu yang membuat kita terjebak dan memisahkan ranah pembicaraan sains dan moral, sains dan agama, sosial dan sains, dan sebagainya, padahal sebenarnya pembelajaran dengan menyatukan kesemua konsep akan menciptakan pemahaman yang mendalam.
Kegiatan mempelajari pohon dalam pelajaran IPA di sebuah SD di Jepang menggambarkan bahwa siswa diarahkan tidak saja untuk memahami pohon secara ilmiah, tetapi mereka diajak pula untuk menempatkan pohon sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Dengan konsep ini siswa akan peduli dengan kondisi pohon di sekitarnya. Sebagai dampaknya, tidak ada penebangan liar di Jepang.
Ketika mengajarkan tentang dinamika air, guru tidak saja mengajarkan konsep bahwa air mengalir dari tempat yang tinggi ke rendah, atau air mempunyai kekuatan yang bisa menghasilkan energi, tetapi empati siswa untuk menjaga kebersihan sumber-sumber air dan ekosistemnya adalah bentuk pembelajaran yang melengkapi inti pembelajaran sains.
Jika ingin mencontoh Jepang, pendidikan moral di Indonesia sudah saatnya beralih dari pendidikan teori kepada pendidikan praktis.
(Mahasiswa Program Doktor Graduate School of Education and Human Development,Nagoya University, Jepang)
Artikel di 28 Juli 2008
Sebuah poster di kereta bawah tanah di Nagoya, Jepang mengilustrasikan ketidaksopanan sebagai penumpang kereta. Seorang siswa SMA digambarkan duduk dengan posisi kaki mengangkang sehingga mengambil tempat yang lebar, dan tas besarnya diletakkan di depan, menghalangi orang untuk berdiri bebas. Gambar lain tentang seorang gadis yang berbicara melalui telepon genggam dengan suara keras, sehingga mengganggu penumpang lain.
Tidak hanya poster, kendaraan umum di Jepang sangat terkenal dengan sarat peringatan dan ajakan untuk mematuhi norma-norma, misalnya larangan untuk menelepon, berbicara keras, dan beberapa tindakan yang mengganggu.
Ketika datang pertama kali ke Jepang, saya berdecak kagum dengan kerapihan, ketertiban dan kedisiplinan warga Jepang mengantri masuk ke dalam kereta. Tidak ada yang berebut, bahkan anak kecil pun berdiri sabar menunggu giliran. Dari mana kedisiplinan itu dibangun ? Menjawab pertanyaan ini tidaklah gampang jika analisa hanya didasarkan pada peraturan hukum, pun tidak bisa sekedar dilihat sebagai wacana sosial politik. Secara teoritis dan empirik, dapat dikatakan bahwa kedisiplinan itu erat kaitannya dengan pendidikan.
Bagaimana sekolah-sekolah di Jepang mengajarkan kedisiplinan dapat kita cermati melalui pendidikan moralnya. Norma dalam masyarakat Jepang sangat terkait dengan ajaran Shinto dan Budhha, tetapi menariknya kedua agama ini tidak diajarkan di sekolah dalam bentuk pelajaran wajib, seperti halnya pelajaran agama di Indonesia. Namun nilai-nilainya diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari di sekolah.
Pendidikan moral di dalam bahasa Jepang disebut ‘doutokukyouiku‘. Kata doutoku berarti moral dan kyouiku berarti pendidikan. Kata ‘doutoku‘ terdiri dari dua kata yaitu ‘dou‘ yang berarti jalan dan kata ‘toku‘ yang berarti virtue atau kebaikan. Penggunaan kata ‘dou‘ dalam terminologi Jepang banyak sekali, misalnya judou, kendou, akidou (olahraga tradisional Jepang), shodou (kaligrafi), sadou (tradisi minum teh) yang dalam pemahaman orang Jepang memerlukan ketekunan untuk mencapai taraf tertinggi. Demikian pula moral atau kebaikan, memerlukan ketekunan untuk menemukan ‘jalan’ mencapainya.
Karenanya, pendidikan moral di sekolah-sekolah di Jepang tidak diajarkan sebagai sebuah mata pelajaran khusus, tetapi diintegrasikan dalam semua mata pelajaran. Secara khusus wali kelas bertanggung jawab untuk mendiskusikan aturan kelas, aturan bermain bersama, atau hubungan kerjasama antaranggota kelas dalam 35 jam setiap tahun di SD dan SMP. Dalam pelajaran lain seperti seikatsuka atau pendidikan tentang kehidupan sehari-hari, siswa SD diajari tatacara menyeberang jalan, adab di dalam kereta, yang tidak saja berupa teori, tetapi guru juga mengajak mereka untuk bersama naik kereta dan mempraktekkannya. Wali kelas juga menyampaikan kasus pelanggaran, dan mengajak siswa untuk mendiskusikan pemecahannya. Pendidikan moral di SMA selanjutnya menjadi pendidikan kewarganegaraan. Pembekalan prinsip dasar hidup yang kuat di masa pendidikan dasar inilah yang membuat kedisiplinan dan keteraturan dalam masyarakat Jepang.
Ketika berbicara tentang sains, yang muncul di kepala kita adalah teori dan rumus yang harus dihafalkan. Demikian pula ketika kita mendengar istilah pendidikan sosial, maka imajinasi akan mengerucut pada sejumlah uraian panjang tentang konsep hubungan manusia dengan makhluk, dan saat kita berbicara tentang pendidikan agama, maka otomatis kita merujuk kepada hubungan manusia dengan Tuhannya.
Pola pemikiran yang seperti itu yang membuat kita terjebak dan memisahkan ranah pembicaraan sains dan moral, sains dan agama, sosial dan sains, dan sebagainya, padahal sebenarnya pembelajaran dengan menyatukan kesemua konsep akan menciptakan pemahaman yang mendalam.
Kegiatan mempelajari pohon dalam pelajaran IPA di sebuah SD di Jepang menggambarkan bahwa siswa diarahkan tidak saja untuk memahami pohon secara ilmiah, tetapi mereka diajak pula untuk menempatkan pohon sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Dengan konsep ini siswa akan peduli dengan kondisi pohon di sekitarnya. Sebagai dampaknya, tidak ada penebangan liar di Jepang.
Ketika mengajarkan tentang dinamika air, guru tidak saja mengajarkan konsep bahwa air mengalir dari tempat yang tinggi ke rendah, atau air mempunyai kekuatan yang bisa menghasilkan energi, tetapi empati siswa untuk menjaga kebersihan sumber-sumber air dan ekosistemnya adalah bentuk pembelajaran yang melengkapi inti pembelajaran sains.
Jika ingin mencontoh Jepang, pendidikan moral di Indonesia sudah saatnya beralih dari pendidikan teori kepada pendidikan praktis.
Tuesday, 23 June 2009
Neoliberalisme Vs Ekonom Kerakyatan

Dari Diskusi Freedom Institute
Mendengar Istilah "Ekonomi Neoliberalisme" ingat Prof. Boediono, sedangkan mendengar istilah "Ekonomi Kerakyatan" ingat Prof.Emil Salim dan Prof.Mubiarto.
Sementara itu bagi orang awam istilah-istilah itu membingungkan mereka jika dikaitkan dengan kebijakan pemerintah. Benarkah Neoliberalisme sungguh-sungguh bagaikan monster yang siap menerkam rakyat kecil? atau jangan-jangan istilah itu hanyalah merupakan imajinasi semata? atau sebagai bentuk baru dari sebuah perlawanan orang-orang sosialis yang telah frustasi menghadapi serangan ekonomi liberal?, Betulkah faham ini yang menjadi biang kerok kehancuran ekonomi Indonesia - yang kemudian dijadikan isu politik oleh lawan politik SBY? Relevankah membedakan neoliberalisme dengan ekonomi keakyatan jika dilihat dari kebijakan-kebijakan negara-negara liberal pada masa ini?
Penunjukkan Boediono sebagai cawapres Susilo Bambang Yudhoyono telah memantik polemik hangat tentang arah pembangunan ekonomi Indonesia. Para pendukung pasangan capres-cawapres Mega-Pro dan JK-Wiranto menyerang ekonomi yang diusung SBY-Boediono sebagai pengusung agenda “neoliberal,” sambil mengklaim pendekatan ekonomi mereka sendiri sebagai “ekonomi kerakyatan.”
Untuk memahami apa yang dimaksud ekonomi kerakyatan dan neoliberal, Freedom Institute, Liberal Society, Café Salemba, dan Friedrich Naumann Stiftung, menggelar diskusi tentang isu ini bersama M. Ikhsan Modjo (INDEF) dan Arinto A. Patunru (LPEM UI), pada Selasa, 26 Mei 2009, di Kantor Freedom Institute, Jalan Irian No 8. Menteng, Jakarta.
Diskusi dipandu Luthfi Assyakaunie. Berikut jalan diskusi itu.
Untuk pertama kalinya, isu ekonomi menjadi isu penting dalam pemilihan presiden kali ini. Ini berbeda dengan pemilu presiden sebelumnya. Saat itu isu yang berkembang adalah isu Islam dan nasionalisme.
Neoliberalisme sendiri merupakan nomenklatur yang diciptakan dari luar. Istilah umum yang dikenal adalah liberalisme. Ia berangkat dari filsafat pada masa pencerahan Eropa berupa kebebasan individu dan pasar yang otonom.
Istilah neoliberal muncul pertama kali tahun 1960-an, bersamaan dengan gerakan teologi pembebasan di Amerika Latin. Istilah neoliberal datang dari mereka yang tidak menyukai istilah liberalisme.
Sementara, istilah ekonomi kerakyatan sudah dikenal sejak sebelum kemerdekaan. Adalah Muhammad Hatta yang pertama kali memperkenalkan. Pada tahun 1930-an, Hatta menyebutnya dengan istilah “ekonomi rakyat.” Apa yang disebut ekonomi rakyat adalah ekonomi pribumi. Tujuan Hatta adalah membela kepentingan ekonomi pribumi.
Tak cuma Hatta yang menulis soal ekonomi kerakyatan. HOS Tjokroaminoto juga menulis soal ini. Dalam perspektif Tjokroaminoto dia membedakan dua jenis kapitalisme. Yakni kapitalisme yang baik dan kapitalisme yang jahat. Kapitalisme yang baik adalah ekonomi pribumi sementara kapitalime yang jahat adalah kekuatan ekonomi penjajah.
Dengan demikian, ekonomi kerakyatan pada masa sebelum kemerdekaan adalah ekonomi pribumi melawan ekonomi penjajahan. Sedang pada masa awal kemerdekaan, ekonomi kerakyatan berubah tafsir menjadi ekonomi rakyat miskin melawan ekonomi pengusaha besar.
Pada tahun 1960-an, juga ada program demokrasi ekonomi. Program ini berusaha melibatkan rakyat dalam ekonomi. Dengan demokrasi ekonomi, modal diharapkan dikuasai oleh masyarakat dan digunakan sepenuh-penuhnya untuk kepentingan rakyat.
Pada tahun 1980-an, ekonomi kerakyatan berubah istilah menjadi ekonomi Pancasila. Namun semangatnya masih sama seperti ekonomi kerakyatan pada masa pra kemerdekaan.
Perdebatan neoliberal dan ekonomi kerakyatan pada saat pemilihan presiden menunjukkan semakin matangnya kehidupan berpolitik dan berdemokrasi di Indonesia. Berpolitik tidak lagi identik dengan pelemparan isu-isu sempit yang bersifat ideologis dan sektarian, tetapi lebih kepada isu-isu pragmatis dan ekonomi. Ini merupakan pertanda sehat walau tidak sempurna
Sementara, kemunculan neoliberal pada tahun 1960-an dilatarbelakangi oleh beragam kegagalan kebijakan ekonomi teknokratis dan intervensionis. Neoliberal mensyaratkan dua hal. Pertama, meminimalisir intervensi negara. Dan kedua, mengakui kebebasan individu.
Neoliberal adalah sebuah istilah yang digunakan dari berbagai teori kontemporer anti intervensi yang dikembangkan pada konteks historis, politik dan institusi tertentu. Ia juga merupakan perkawinan aliran ekonomi neoklasik yang menganut paham kebebasan pasar di satu sisi, dengan mazhab politik Libertarian-Austria yang mengusung kebebasan dan kemerdekaan individu di sisi lain.
Setidaknya ada beberapa model yang dikenal dalam kelompok neoliberal. Model-model itu adalah model monetaris, penolakan terhadap perencanaan terpusat, kekakuan lembaga,principal agent model of bureaucracy, perburuan rente serta penolakan terhadap perusahaan publik dan privatisasi.
Untuk model terakhir, kaum neoliberal berpendapat bahwa perusahaan publik merupakan salah satu sumber utama dari inefisiensi ekonomi dan stagnasi yang dialami negara berkembang. Untuk konteks negara berkembang seperti Indonesia, di mana inefisiensi perusahaan publik sering terjadi, kebijakan privatisasi banyak mendapat dukungan.
Lalu, dengan berbekal kesuksesan aplikasi kebijakan di negara maju, World Bank, IMF dan Departemen Keuangan Amerika Serikat sepakat untuk mengeneralisasi teori itu dengan apa yang sekarang dikenal sebagai Washington Consensus. Setidaknya ada 10 kebijakan inti dari Washington Consensus itu.
Sepuluh kebijakan itu adalah: displin kebijakan fiskal; pengalihan belanja subsidi, kecuali subsidi langsung pada belanja pendidikan, kesehatan dan infrastruktur; reformasi pajak –memperluas basis pajak dan penurunan tingkat pajak; suku bunga yang ditentukan pasar dan positif secara riil; nilai tukar kompetitif; liberalisasi perdagangan, terutama penghapusan lisensi dan penerapan tarif tunggal; liberalisasi investasi langsung asing; privatisasi BUMN; deregulasi; dan perlindungan hak milik.
Namun Washington Consensus juga memicu kritik. Kelompok sayap kiri menuduh penghapusan subsidi bertujuan untuk mempercepat pembayaran utang ke negara maju.
George Stiglitz sendiri juga mengritik liberalisasi tanpa penahapan dan persiapan yang cukup. Kegagalan Washington Consensus dinilai Stigltitz dibuktikan oleh fakta bahwa perekonomian negara-negara yang menerapkan bukan saja tidak membaik, melainkan malah memburuk, seperti kasus Argentina dan Indonesia. Stigltitz menyarankan liberalisasi seharusnya dimulai dari sektor riil, perdagangan lalu keuangan. Sementara di Indonesia posisinya malah terbalik. Sektor keuangan terlebih dahulu diliberalisasi melalui Pakto 88, baru sektor perdagangan dan sektor riil.
Kelemahan pemikiran neoliberal juga muncul sebagai akibat kelahiran “kawin kepentingan” antara aliran neoklasik yang memberikan legitimasi akademis-intelektual, dan tradisi Libertarian-Austria sebagai sumber retorik politik.
Dari paparan ini, dapat dikatakan bahwa apa yang dinamakan neoliberal tidak lebih dari kumpulan pemikiran anti intervensi pemerintah dalam perekonomian yang sangat beragam dan bisa saja bertentangan dengan akar pemikiran neoklasik. Akan tetapi terlepas dari kekurangan dan bias inteletual, ia juga menunjukkan kepada kita berbagai kelemahan fundamental dari visi teknokratik dalam suatu perekonomian.
Ekonomi kerakyatan sendiri merupakan kumpulan pemikiran tentang sebuah orientasi kebijakan yang lebih berpihak pada rakyat jelata, baik di sisi komsumsi dalam hal pemenuhan kebutuhan dasar dan pokok, maupun di sisi produksi dengan berpihak pada usaha kecil menengah.
Penemu istilah ekonomi kerakyatan pertama kali adalah Emil Salim. Ia menulis istilah itu dalam sebuah artikel koran pada tanggal 30 Juni 1966. Sementara yang mempopulerkan adalah Mubyarto dengan istilah ekonomi Pancasila pada tahun 1980-an.
Namun, apa yang dinamakan ekonomi kerakyatan baru sebatas semantik, karena belum serius menjawab peran negara, pasar dan individu seperti teori-teori ekonomi pada umumnya.
Perbedaan tajam yang membedakan ekonomi kerakyatan dan neoliberal adalah peran pemerintah. Pada ekonomi kerakyatan pemerintah diharap melakukan intervensi dan berpihak pada rakyat banyak, sementara ekonomi liberal mengandaikan pemerintah netral dan tidak campur tangan.
Lantas bagaimana wajah pemerintah SBY sekarang? Boleh dibilang pemerintahan SBY sekarang adalah pemerintah dengan corak ekonomi neoliberal kerakyatan. Disebut kerakyatan, karena pemerintah juga melakukan intervensi. Salah satunya dengan program pemberdayaan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Pemerintah juga menggulirkan program nasional pemberdayaan masyarakat (PNPM). Tapi dikatakan neoliberal karena di sisi lain, pemerintah juga meliberalkan investasi asing.
Di luar isu liberalisasi modal asing dan privatisasi, agenda ekonomi rakyat tidak banyak bertentangan langsung dengan pemikiran neoliberal. Bahkan, pemerintah saat ini bisa menggabungkan keduanya. Jargon ekonomi rakyat memang lebih terkesan pada pemrioritasan sektor pertanian dan UMKM. Karenanya, ekonomi rakyat kurang tepat untuk menjadi jargon melawan liberalisasi dan privatisasi.
Sumber: www.vivanews.com
Subscribe to:
Posts (Atom)