Saturday, 8 August 2009

Sajak Bulan Mei 1998

WS. Rendra

Aku tulis sajak ini di bulan gelap raja-raja
Bangkai-bangkai tergeletak lengket di aspal jalan
Amarah merajalela tanpa alamat
Kelakuan muncul dari sampah kehidupan
Pikiran kusut membentur simpul-simpul sejarah
O, zaman edan!
O, malam kelam pikiran insan!
Koyak moyak sudah keteduhan tenda kepercayaan
Kitab undang-undang tergeletak di selokan
Kepastian hidup terhuyung-huyung dalam comberan
O, tatawarna fatamorgana kekuasaan!
O, sihir berkilauan dari mahkota raja-raja!
Dari sejak zaman Ibrahim dan Musa
Allah selalu mengingatkan bahwa hukum harus lebih tinggi
dari ketinggian para politisi, raja-raja, dan tentara
O, kebingungan yang muncul dari kabut ketakutan!
O, rasa putus asa yang terbentur sangkur!
Berhentilah mencari Ratu Adil!
Ratu Adil itu tidak ada. Ratu Adil itu tipu daya!
Apa yang harus kita tegakkan bersama
adalah Hukum Adil
Hukum Adil adalah bintang pedoman di dalam prahara
Bau anyir darah yang kini memenuhi udara
menjadi saksi yang akan berkata:
Apabila pemerintah sudah menjarah Daulat Rakyat
apabila cukong-cukong sudah menjarah ekonomi bangsa
apabila aparat keamanan sudah menjarah keamanan
maka rakyat yang tertekan akan mencontoh penguasa
lalu menjadi penjarah di pasar dan jalan raya
Wahai, penguasa dunia yang fana!
Wahai, jiwa yang tertenung sihir tahta!
Apakah masih buta dan tuli di dalam hati?
Apakah masih akan menipu diri sendiri?
Apabila saran akal sehat kamu remehkan
berarti pintu untuk pikiran-pikiran kalap
yang akan muncul dari sudut-sudut gelap
telah kamu bukakan!
Cadar kabut duka cita menutup wajah Ibu Pertiwi
Airmata mengalir dari sajakku ini.
(Sajak ini dibuat di Jakarta pada tanggal 17 Mei 1998
dan dibacakan Rendra di DPR pada tanggal 18 Mei 1998)

Monday, 3 August 2009

Catatan untuk Umat Muslim Amerika

Mungkin agak terlambat saya memposting, sekalipun sebenarnya sudah lama memiliki file ini (2001) tetapi saya merasa isinya masih relevan untuk diposting kembali, sebuah tulisan dari Muqtedar Khan, Ph.D. Direktur Kajian Internasional, Adrian College, Michigan, Ikatan Sarjana Muslim Ilmu-ilmu Sosial Pusat Studi Islam dan Demokrasi.

Berikut tulisannya

Dengan nama Allah, yang Maha Pemurah dan Pengasih. Semoga Anda sekalian berada dalam naungan Islam dan memperoleh nikmat ampunan, lindungan dan rahmat Allah.
Saya menulis catatan ini dengan maksud yang jelas untuk mengajak Anda semua untuk memimpin komunitas Muslim Amerika untuk berpikir masak-masak, merenung dan menilai kembali.

Yang terjadi pada 11 September di New York dan di Washington, D.C. akan tetap menjadi cacat yang mengerikan dalam sejarah Islam dan kemanusiaan. Betapa pun besarnya kita mengecamnya, dan merujuk pada Al-Qur'an dan Sunnah untuk mendukung bahwa Islam mengharamkan pembunuhan orang tak berdosa, kenyataannya adalah bahwa para pelaku kejahatan terhadap manusia itu sudah mengindikasikan bahwa tindakan mereka didukung oleh nilai-nilai Islam.

Kenyataan bahwa sekarang sejumlah cendekiawan Muslim dan ribuan Muslim membela si tertuduh merupakan indikasi bahwa tidak semua Muslim percaya bahwa serangan itu tidak Islami. Ini benar-benar menyedihkan.

Kalaupun benar bahwa Israel dan A.S. adalah musuh-musuh Dunia Islam (saya heran apa yang menghalangi mereka sehingga mereka tidak melepas senjata nuklir mereka melawan kaum Muslim), maka suatu tanggapan yang secara keji membunuh ribuan penduduk sipil, termasuk ratusan kaum Muslim, adalah benar-benar tidak dapat dibela. Kalau di dalam lubuk hati Anda ada semacam simpati terhadap mereka yang melakukan tindakan tersebut, saya minta Anda untuk mengajukan pertanyaan ini: Mungkinkah Nabi Muhammad S.A.W. akan menyetujui tindakan seperti itu?

Kendati mendorong Muslim untuk menentang ketidakadilan (Al-Qur'an 4:135), Allah juga menerapkan peraturan yang keras tentang perang. Allah berfirman dengan tegas bahwa membunuh satu orang tidak berdosa sama dengan membunuh seluruh umat manusia (Al-Qur'an 5:32). Allah juga mendorong umat Muslim untuk mengampuni umat Yahudi dan Kristen jika mereka melakukan ketidakadilan terhadap kita (Al-Qur'an 2:109, 3:159, 5:85).

Umat Muslim, termasuk Muslim Amerika sudah bertindak sangat munafik. Mereka memprotes tindakan sewenang-wenang Israel namun diam saja menyaksikan diskriminasi di negara-negara Islam. Di kawasan Teluk Parsi kita bisa menyaksikan betapa undang-undang dan bahkan gaji ditentukan berdasarkan asal-usul etnik. Ini rasialisme, tapi kita tidak pernah mendengar ada umat Muslim yang memprotes mereka di forum-forum internasional.

Pendudukan Israel atas Palestina mungkin merupakan kekecewaan utama umat Islam terhadap Barat. Kendati mengakui hal tersebut, saya harus mengingatkan bahwa Israel memperlakukan satu juta warganya keturunan Arab dengan lebih hormat dan bermartabat daripada kebanyakan bangsa Arab memperlakukan warga mereka. Kini pengungsi Palestina dapat bermukim dan menjadi warga negara Amerika Serikat, namun di tengah-tengah semua retorika fasih dari Dunia Arab tersebut dan perintah Al-Qur'an (24:22), tak satu pun negara Islam, kecuali Yordania, memberi dukungan seperti ini kepada mereka.

Sementara kita dengan keras dan konsisten mengutuk Israel atas perlakuan buruknya terhadap bangsa Palestina, kita diam saja ketika rezim-rezim Muslim melanggar hak-hak umat Muslim dan membunuh ribuan di antara mereka. Ingatkah pada Saddam dan penggunaan senjata kimia terhadap umat Muslim (Kurdi)? Ingatkah pada tindakan berlebihan tentara Pakistan terhadap umat Muslim (Bengali)? Ingatkah pada kaum Muhajidin di Afganistan dan tindakan saling bantai mereka? Pernahkah kita mengutuk mereka atas ekses-ekses mereka? Sudahkah kita memintakan campur tangan internasional atau hukuman terhadap mereka? Tahukah Anda bagaimana keluarga Saudi memperlakukan minoritas Syiah? Sudahkah kita memprotes pelanggaran atas hak-hak mereka? Tapi kita bersemangat sekali mengecam Israel; bukan karena kita peduli pada hak-hak dan kehidupan bangsa Palestina, bukan. Kita mengutuk Israel karena kita "membenci" mereka.

Umat Islam senang tinggal di Amerika tapi juga membencinya. Banyak yang secara terbuka mengatakan bahwa A.S. adalah negara teroris tapi mereka terus tinggal di situ. Keputusan mereka untuk tinggal di sini merupakan bukti bahwa mereka lebih suka tinggal di sini daripada di tempat lain. Sebagai Muslim India, saya tahu dengan pasti bahwa tidak ada tempat lain di dunia, termasuk India, di mana saya akan mendapatkan rasa martabat dan penghormatan yang sama dengan yang sudah saya terima di A.S. Tak ada satu negara Muslim pun yang akan memperlakukan saya sebaik di A.S. Seandainya saja peristiwa 11 September itu terjadi di India, negara demokrasi terbesar di dunia, ribuan kaum Muslim sudah akan terbantai dalam kerusuhan-kerusuhan yang hanya berdasarkan pada kecurigaan dan akan ada pembantaian lagi setelah penyebabnya jelas.

Tapi di A.S., prasangka dan ketakutan pada orang asing telah ditekan oleh media dan para pemimpin. Di banyak tempat ratusan orang Amerika telah berkumpul di pusat-pusat kegiatan Islam menunjukkan lambang perlindungan dan rangkulan terhadap umat Muslim. Di banyak kota jemaah Kristen mulai memakai jilbab untuk mengidentifikasikan diri mereka dengan para Muslimah sesama warga negara. Dalam kesabaran dan toleransi, banyak warga Amerika biasa telah menunjukkan kebajikan mereka yang luar biasa.

Sudah saatnya kita mengakui bahwa berbagai kebebasan yang kita nikmati di A.S. lebih kita kehendaki daripada solidaritas dangkal dengan Dunia Islam. Jika Anda tidak setuju, buktikanlah dengan mengemasi tas-tas Anda dan pergilah ke negara Muslim mana saja tempat Anda mengidentifikasikan diri. Jika Anda tidak pergi dan tidak mengakui bahwa Anda lebih suka tinggal di sini daripada di tempat lain, Anda tahu Anda sedang bersikap munafik.

Sudah saatnya kita menghadapi segala kemunafikan ini dan berusaha mengatasinya. Sudah saatnya para pemimpin Islam Amerika berjuang memurnikan diri mereka dengan nama Islam.

Selama lebih satu dasawarsa ini kita menyaksikan umat Muslim atas nama Islam melakukan kekejaman terhadap Muslim lain dan orang lain. Kita senantiasa menemukan cara untuk mencocokkan jarak yang sangat jauh antara nilai-nilai Islam dan praktek Islam dengan menunjuk pada ketidakadilan yang dilakukan terhadap Muslim oleh pihak lain. Intinya adalah demikian: keyakinan kita pada Islam dan komitmen kita pada nilai-nilai Islam tidak bergantung pada tingkah-laku moral A.S. dan Israel. Dan sebagai Muslim, dapatkah kita berduka atas penghilangan nyawa secara tidak berperikemanusiaan dan keji itu atas nama Islam?

Korban-korban terbesar dari politik yang penuh kebencian sebagaimana terwujud dalam tindakan-tindakan beberapa milisi Muslim di seluruh dunia adalah Muslim pula. Kebencian merupakan bentuk ekstrem dari tidak adanya toleransi dan jika ada individu atau kelompok yang tunduk padanya, mereka bisa melakukan hal-hal yang tidak konstruktif. Milisi seperti Taliban sudah menyebabkan kebencian mereka pada Barat mengabaikan kewajiban mereka untuk memajukan kesejahteraan rakyat mereka dan sebagai akibat dari tindakan mereka bukan saja ribuan orang tak bersalah sudah tewas di Amerika, tapi ribuan orang juga akan tewas di Dunia Muslim.

Sudah setengah juta rakyat Afganistan terpaksa harus meninggalkan rumah dan negeri mereka. Tapi perang justru akan bertambah buruk. Hamas dan Jihad Islam mungkin bisa membunuh beberapa orang Yahudi, termasuk wanita dan anak-anak, dengan bom bunuh diri mereka dan untuk sementara dapat memuaskan rasa haus mereka akan darah Yahudi, tapi ribuan orang Palestina nantinya harus membayar harga dari tindakan mereka.
Budaya kebencian dan pembunuhan mulai mengoyak-oyak jalinan moral masyarakat Muslim. Kita lebih memberi perhatian pada "orang lain" dan sama sekali sudah lupa pada kewajiban kita terhadap Allah. Dalam upaya menegakkan jihad kecil, kita sudah mengorbankan jihad besar.

Kebangkitan Islam, cita-citanya yang luhur untuk memperoleh tujuan akhir berupa keadilan universal dan masyarakat yang bermoral sudah dibajak oleh kebencian dan seruan bagi pembunuhan dan aniaya. Kalau saja bin Laden itu hanya satu orang saja, maka kita tidak akan ada masalah. Namun sayangnya bin Laden sudah menjadi semacam fenomena - sebuah kanker yang menggerogoti moralitas kaum muda kita, dan mencemari kesehatan rohani masa depan kita.

Sekarang kebangkitan Islam yang telah berlangsung seabad ini berada dalam bahaya karena kita telah membiarkan kegilaan menyelemuti kearifan penilaian kita. Ya, A.S. telah berperan dalam penciptaan sosok bin Laden dan Taliban, namun kitalah yang telah membiarkan mereka berkembang dan memperoleh pijakan kuat. Merupakan kewajiban kita untuk memantau dunia kita. Adalah tanggung jawab kita untuk mencegah orang menyalahgunakan Islam. Adalah pekerjaan kita untuk memastikan Islam tidak disalahartikan. Mestinya sudah kita pastikan bahwa apa yang telah terjadi pada 11 September seharusnya tidak pernah terjadi.

Kini saatnya bagi para pemimpin Muslim Amerika untuk bangkit dan menyadari bahwa ada lebih banyak hal bagi kehidupan daripada sekadar menyaingi lobi Yahudi Amerika untuk mencari pengaruh dalam kebijakan luar negeri A.S. Islam tidak bicara soal mengalahkan kaum Yahudi atau menaklukkan Jerusalem. Islam bicara soal kemurahan hati, tentang kebajikan, tentang pengorbanan dan tentang kewajiban. Di atas itu semua adalah usaha mencapai kesempurnaan moral. Tak ada yang bisa lebih menjauhkan diri kita dari kesempurnaan moral ketimbang pembantaian keji atas ribuan orang tak berdosa. Saya harap sekarang kita akan kembali mengabdikan hidup kita dan lembaga kita untuk memperoleh keharmonisan, perdamaian dan toleransi. Mari kita siapkan diri untuk lebih menanggung ketidakadilan daripada menciptakan ketidakadilan.

Bagaimanapun, kitalah yang mengemban tanggung jawab suci Islam dan bukan orang lain. Kita harus lebih baik secara moral, lebih murah hati, dan lebih berkorban daripada yang lain, jika kita ingin meyakinkan dunia tentang kebenaran pesan agama kita. Kita bahkan tidak boleh sejajar dengan pihak lain dalam soal kebajikan, kita harus mengungguli mereka.

Sekarang saatnya untuk mempertimbangkan masak-masak. Bagaimana mungkin pesan dari Nabi Muhammad S.A.W., yang diutus sebagai rahmat bagi umat manusia, bisa berubah menjadi sumber teror dan ketakutan? Bagaimana mungkin Islam memberi ilham kepada ribuan kaum muda agar membaktikan hidup mereka untuk membunuh manusia lainnya? Seharusnya kita mengundang orang untuk datang kepada Islam, bukannya membunuh mereka.

Pameran terburuk tentang Islam telah terjadi di depan mata kita sendiri. Kita harus menjadi pihak yang pertama untuk memikul tanggung jawab membersihkan kebatilan yang baru saja terjadi. Ini adalah mandat bagi kita, tanggung jawab kita dan juga kesempatan kita.

Tuesday, 21 July 2009

KHUTBAH TERAKHIR NABI MUHAMMAD S.A.W.

KHUTBAH INI DISAMPAIKAN PADA 9 ZULHIJJAH TAHUN 10 HIJRAH DI LEMBAH URANAH, GUNUNG ‘ARAFAH

Ary@sosman

Wahai manusia dengarlah baik-baik apa yang hendak ku katakan !!!
Aku tidak mengetahui apakah aku dapat bertemu lagi dengan kamu semua selepas tahun ini. Oleh itu dengarlah dengan teliti kata-kataku ini dan sampaikanlah ia kepada orang-orang yang tidak dapat hadir di sini pada hari ini.

Wahai manusia, sepertimana kamu menganggap bulan ini dan kota ini sebagai suci maka anggaplah jiwa dan harta setiap orang Muslim sebagai amanah suci. Kembalikan harta yang diamanahkan kepada kamu kepada pemiliknya yang berhak.

Janganlah kamu sakiti sesiapapun agar orang lain tidak menyakiti kamu pula. Ingatlah bahawa sesungguhnya kamu akan menemui Tuhan kamu dan Dia pasti akan membuat perhitungan atas segala amalan kamu. Allah telah mengharamkan riba’, oleh itu segala urusan yang melibatkan riba’ hendaklah dibatalkan mulai sekarang.

Berwaspadalah terhadap syaitan demi keselamatan agama kamu. Dia telah berputus asa untuk menyesatkan kamu dalam perkara-perkara besar maka berjaga-jagalah supaya kamu tidak mengikutinya dalam perkara-perkara kecil.

Wahai manusia, sebagaimana kamu mempunyai hak atas para isteri kamu, mereka juga mempunyai atas kamu. Sekiranya mereka menyempurnakan mereka ke atas kamu maka mereka juga berhak untuk diberi makan dan pakaian dalam suasana kasih sayang.

Layanilah wanita-wanita kamu dengan baik dan berlemah lembutlah terhadap mereka kerana sesungguhnya mereka adalah teman dan pembantu kamu yang setia. Dan hak kamu ke atas mereka ialah mereka sama sekali tidak boleh memasukkan orang yang kamu tidak sukai ke dalam rumah kamu dan dilarang melakukan zina.

Wahai manusia, dengarlah bersungguh-sungguh kata-kataku ini. Sembahlah Allah, dirikanlah solat lima kali sehari, berpuasalah di Bulan Ramadhan, tunaikanlah zakat dan harta kekayaan kamu dan kerjakanlah ibadah haji sekiranya mampu.

Ketahuilah bahawa setiap Muslim adalah saudara kepada Muslim yang lain. Kamu semua adalah sama; tidak ada seorangpun yang lebih mulia dari yang lainnya kecuali dalam taqwa dan amal soleh.

Ingatlah bahawa kamu akan mengadap Allah pada suatu hari untuk dipertanggungjawabkan atas segala apa yang telah kamu lakukan. Oleh itu, awasilah tindak-tanduk kamu agar jangan sekali-kali kamu terkeluar dari landasan kebenaran selepas ketiadaanku.

Wahai manusia, tidak ada lagi Nabi atau Rasul yang akan datang selepasku dan tidak akan lahir agama baru. Oleh itu wahai manusia, nilailah dengan betul dan fahamilah kata-kataku yang telah disampaikan kepada kamu.

Sesungguhnya aku tinggalkan kepada kamu dua perkara yang sekiranya kamu berpegang teguh dan mengikuti kedua-duanya nescaya kamu tidak akan tersesat selama-lamanya. Itulah Al-Quran dan Sunnahku.

Hendaklah orang-orang yang mendengar ucapanku ini menyampaikannya pula kepada orang lain dan hendaklah orang yang lain itu menyampaikannya pula kepada orang lain dan begitu seterusnya. Semoga orang yang terakhir yang menerimanya lebih memahami kata-kataku ini dari mereka yang mendengar terus dariku.

Saksikanlah Ya Allah, bahawasanya aku telah sampaikan risalah-Mu kepada hamba-hamba-Mu.

Sunday, 12 July 2009

Kemenangan SBY Karena Faktor “Cinta”


Oleh : Arya Sosman

Soesilo Bambang Yudoyono, atau lebih dikenal dengan nama SBY, sosok manusia Indonesia yang sangat fenomenal. Awalnya kemenangan yang diraih pada Pilpres 2004, dengan mengalahkan Amien Rais, Megawati, Wiranto dan Hamzah Haz, dicurigai sebagai akibat dirinya “dizalimi” oleh Presiden RI saat itu, Megawati Soekarno Putri. Penzaliman itu mengakibatkan tumbuhnya rasa simpati pada SBY.

Betul rasa simpati itu benar-benar mengalir dari rakyat saat itu – tapi pertanyaannya mengapa perasaan simpati itu begitu kuat bagi seorang SBY? – bukankah saat itu ia belum dipandang sebagai tokoh yang dapat disejajarkan dengan tokoh-tokoh besar Indonesia lainnya, seperti Amien Rais, Gus Dur, Nurchalis Majid, Habibie, Sri Sultan, Megawati dan Wiranto, melainkan ia hanya dikenal sebagai Menteri dan atau prajurit yang pintar dan baik. SBY juga tidak memiliki modal sosial politik karena tidak punya massa, tidak punya media masa, tidak punya partai, tidak memimpin organisasi besar yang kesemuanya dapat dijadikan sebagai alat untuk pencitraan. SBY juga bukan keturunan bangsawan, bukan dari anak Raja zaman dahulu, bukan hartawan, bukan pengusaha – dia dari orang-orang kebanyakan.

Bagi saya rasa simpati itu hanya sekedar penunjang dari berbagai faktor kemenangan SBY:
1. SBY adalah tokoh yang dianggap merefresentasikan antara “tentara – intelektual dan sedikit symbol Orde Baru ”. Saat itu di kalangan rakyat masih kuat keinginan untuk kembali ke Orde Baru akibat reformasi yang dianggap kebablasan (jawa=kelewatan), tetapi karena mengembalikan Orde Baru merupakan sesuatu yang mustahil maka SBY dipandang sebagai jalan tengahnya.
2. Sebagai tentara, dia pandang mampu mengatasi keamanan. (bagi rakyat kecil keamanan lebih diartikan sebagai bebasnya negara ini atas demonstrasi-demonstrasi, sedangkan keamanan yang dimaksud bagi kaum elit adalah ancaman disintegrasi bangsa (Aceh, Papua, Maluku saat itu meradang ingin merdeka) – Rakyat percaya urusan keamanan hanya militer ahlinya.
3. Sebagai intelektual, SBY bukan sekedar prajurit yang hanya mampu berperang namun ia adalah seorang pemikir yang memiliki gagasan-gagasan cemerlang untuk kemajuan bangsa dan Negara. Gagasan itu telah ditunjukkan dalam kecemerlangannya membuat konsep reformasi ABRI. Bahkan ditengah kesibukannya ia berhasil mendapatkan gelar Doktor di IPB, sebuah gelar tertinggi bagi orang-orang berilmu.
Waktu itu ada perasaan jenuh dipimpin oleh tentara tetapi persoalannya para tokoh sipil dianggap gagal menjadikan Negara ini aman (liat saja sejak Habibi, Gus Dur dan Mega, tiada hari tanpa demonstrasi). Disatu pihak dibutukan figure intelektual. Figur ini di kalangan tentara dianggap langka.
Bagi rakyat SBY adalah perpaduan dari semuanya.

Sekarang, pada Pilpres 2009, dia berhasil mengalahkan pesaingnya secara telak. Dia berhasil menjadi yang terkuat, walaupun para pesaingnya telah menggunakan berbagai cara melumpuhkan pengaruhnya. Upaya pelumpuhan ini secara nyata dilakukan oleh Megawati melalui serangan BLT, misalnya, baik sejak sebelum masa pendaftaran Pilpres sampai dengan saat-saat terakhir kampanye. Tetapi seluruh upaya itu nampak sia-sia, justeru Mega dituduh manusia pendendam, tidak cerdas. SBY tetap yang terkuat.
Para pengamat dan lawan politiknya berusaha mencari-cari alasan kemenangan SBY, namun bagi saya, alasan-alasan itu saya anggap lebih bersifat apologis bahkan memaksakan gambaran yang tidak sesungguhnya. Diantara alasan-alasan itu bahkan banyak yang bersifat “tuduhan”, misalnya adanya tuduhan SBY melakukan Penggiringan opini melalui survey, adanya operasi gelap (silent operation), kecurangan Daftar Pemilih Tetap (DPT), dana kampanye yang sangat besar, SBY Boediono didukung oleh Barat untuk mengamankan konsep neoliberalisme dan sebagainya.

Apakah seluruh tuduhan itu ada yang terbukti? – jawabannya TIDAK!

Saya berpendapat bahwa kemenangan SBY disebabkan oleh “kekuatan personalnya”, dia adalah tokoh yang dicintai rakyat. Sebagai tokoh yang dicintai maka akan menimbulkan efek terbalik bagi para pengeritiknya – terutama yang tidak konstruktif. Semakin dikritik ia semakin mendapatkan pembelaan, semakin dituding ia semakin dicintai, semakin dijatuhkan ia semakin dihormati, semakin dicemooh simpati rakyat semakin mengalir. Itulah fakta SBY, si manusia pilihan.

Wednesday, 8 July 2009

Menyaksikan Orang-orang Berkualitas Memang Menakjubkan

oleh: Aarya Sosman

Kurang lebih 3 jam tadi malam saya menyaksikan upacara pemakaman Michael Jackson yang mengagumkan itu. Ketika Mariah Cary tampil total membawa lagu hit Jackson sekitar tahun 70an, "I'll Be there" semua terdiam, syahdu, histeris dan tepuk tangan yang bergemuruh. Penampilan Mariah Cary hampir sempurna karena itu ia memukau. Suasana ini berlanjut ketika Stevie Wonder, penyanyi dunia tuna netra yang luar biasa itu menumpahkan segala emosinya melalui suara emasnya, "Never Dreamed You'd Leave in Summer" yang terkenal pada era 70an

"Ini merupakan momen yang kuharapkan tidak ingin kuhampiri, tetapi lebih dari apa yang dapat kusampaikan, aku menyadari bahwa Tuhan baik," kata Wonder. "Dan aku benar-benar mengetahui bahwa sejauh yang kita rasakan dan alami, kita memerlukan Michael bersama kita, Tuhan mungkin lebih memerlukannya," ujarnya.

Tidak adil rasanya dalam kesempatan ini untuk tidak menyebut Lionel Richie, Jenifer Hudson, serta penyanyi-penyanyi kelas dunia lainnya, mereka adalah orang-orang luar biasa yang turut mengumandangkan kepiluannya lewat lagu yang menyihir para pelayat dan para pemirsa seluruh dunia.

Proses penghormatan terakhir terhadap Jacko tidak lepas dari linangan air mata saat kakak Jacko, Jermaine, membawakan lagu favorit adiknya itu, "Smile" Setelah berjuang untuk tidak menangis dengan membawakan lagu itu, Jermaine dipeluk oleh beberapa saudaranya saat beranjak meninggalkan panggung.

Itu adalah sederetan orang-orang berkuaitas yang berkiprah di dunia musik. Menarik pula mereka-mereka yang telah memberikan sambutannya pada malam itu dengan kalimat-kalimat yang menyentuh dan cerdas menggugah setiap perasaan orang yang mendengarnya - mereka orang-orang jenius yang menghasilkan karya-karya mengagumkan dan fenomenal, itulah kalimat yang harus saya sampaikan.

Memang, orang-orang berkualitas selalu menjadi motivator, insfirator dan inventor dunia ini, mereka adalah manusia pilihan, pilihan Tuhan yang terus dikenang sepanjang dunia ini hidup. Mereka adalah para pengubah sejarah, menentukan putih hitamnya dunia. Belum pernah ada orang bodoh bisa mengubah dunia.
Karena itu sesungguhnya, jujur, dunia ini sejak lahirnya, adalah milik orang-orang berkualitas.

Selalu menakjubkan menyaksikan orang-orang berkualitas - Michail Jackson adalah salah satunya.

Selamat Jalan Jacko!